ACEH — Gigitan tikus bukan sekadar luka kecil yang bisa diabaikan, apalagi saat sedang hamil. Hewan pengerat ini membawa bakteri dan virus penyebab leptospirosis, hantavirus, hingga rat bite fever yang bisa berdampak serius pada ibu dan janin. Berikut risiko lengkapnya dan langkah penanganan yang perlu Ibu lakukan.
Rat bite fever (RBF) atau demam gigitan tikus adalah infeksi yang muncul setelah kontak dengan hewan pengerat terinfeksi. Gejalanya sering baru terasa 3 sampai 10 hari setelah gigitan, bahkan bisa muncul hingga 21 hari kemudian.
Pada masa itu, luka gigitan biasanya sudah mengering. Kondisi inilah yang membuat banyak ibu lupa kapan persisnya terjadi kontak dengan tikus.
Tikus membawa sejumlah patogen berbahaya yang bisa masuk ke tubuh manusia lewat gigitan, cakaran, atau kontak dengan urine dan kotorannya. Beberapa infeksi yang paling perlu diwaspadai antara lain leptospirosis, hantavirus, demam gigitan tikus, dan meningitis akibat lymphocytic choriomeningitis virus (LCMV).
Meski kasusnya tergolong jarang, infeksi-infeksi ini bisa berkembang menjadi kondisi berat dan berpotensi fatal bila terlambat ditangani. Ibu hamil termasuk kelompok yang perlu lebih waspada karena perubahan sistem imun selama kehamilan.
Demam gigitan tikus umumnya menimbulkan gejala mirip flu yang mudah terlewat. Keluhan yang sering muncul meliputi demam, muntah, sakit kepala, dan nyeri otot.
Sekitar separuh penderita mengalami nyeri atau pembengkakan sendi. Sementara itu, 3 dari 4 orang dilaporkan mengalami ruam kulit.
Dalam 2 hingga 4 hari setelah demam pertama muncul, ruam bisa menyebar ke tangan dan kaki. Bentuknya berupa area datar kemerahan dengan benjolan kecil, dan satu atau lebih sendi bisa membengkak, memerah, serta terasa nyeri.
Langkah awal yang paling penting adalah membersihkan luka secepat dan seteliti mungkin. Cuci area gigitan dengan air bersih mengalir dan sabun antibakteri, lalu bisa dilanjutkan dengan hidrogen peroksida.
Tepuk luka hingga kering memakai handuk bersih, oleskan salep perawatan kulit, kemudian tutup dengan perban tahan air. Setelah itu, segera cari pertolongan medis meski luka terlihat ringan.
Dokter biasanya akan meresepkan antibiotik untuk membasmi infeksi. Ibu wajib menghabiskan seluruh dosis sesuai anjuran, meski kondisi sudah terasa membaik, karena infeksi bisa kembali dan menjadi lebih sulit diobati.
Risiko gigitan tikus bisa ditekan dengan menjaga kebersihan dan menutup akses masuk hewan pengerat ke dalam rumah. Beberapa langkah yang bisa Ibu lakukan:
Selain minum obat sesuai resep, jaga luka tetap bersih dengan mencucinya memakai sabun dan air, lalu ganti perban secara rutin. Atur alarm di ponsel sebagai pengingat jadwal minum antibiotik agar tidak ada dosis yang terlewat.
Perbanyak minum air putih untuk membantu tubuh melawan infeksi. Jika demam tidak turun, luka membengkak, atau muncul ruam yang menyebar, segera kembali ke dokter.
Ibu hamil yang digigit tikus sebaiknya tidak menunggu gejala muncul sebelum memeriksakan diri. Segera datangi fasilitas kesehatan terdekat, terutama bila luka tidak kunjung sembuh, terlihat terinfeksi, atau disertai demam dan nyeri sendi.