Neraca Dagang Agustus 2026 Surplus US$ 3,55 Miliar, Nonmigas Jadi Penopang

Penulis: Sutomo  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 14:03:01 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan neraca perdagangan Agustus 2026 surplus US$ 3,55 miliar dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

ACEH — Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026, ditopang kinerja ekspor nonmigas yang mencapai US$ 6,09 miliar. Surplus datang saat impor tumbuh lebih cepat 19,09 persen secara tahunan, sementara ekspor naik 6,72 persen. Defisit migas US$ 2,54 miliar tetap menjadi beban yang menggerus capaian sektor energi.

Paragraf pembuka: Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan surplus perdagangan bulan lalu tidak lepas dari permintaan global terhadap komoditas mentah Indonesia. Ekspor Agustus 2026 tercatat US$ 26,61 miliar, sedangkan impor US$ 23,06 miliar. Angka impor yang naik dua digit menjadi catatan tersendiri di tengah surplus yang lebih tipis dibanding beberapa bulan sebelumnya.

Tiga Komoditas Penopang Surplus Nonmigas

Lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72) menjadi trio penyumbang utama surplus nonmigas. Ketiganya konsisten menjadi andalan ekspor Indonesia sejak lama, terutama minyak sawit dan batu bara yang permintaannya masih kuat dari India dan China.

"Neraca perdagangan pada kondisi Agustus tahun 2026 ini mengalami surplus sebesar US$ 3,55 miliar," ujar Ateng dalam konferensi pers, Kamis (1/10/2026).

Surplus nonmigas US$ 6,09 miliar sebenarnya cukup besar untuk menutup defisit migas. Namun, angka itu menunjukkan ketergantungan Indonesia pada komoditas bernilai tambah rendah masih belum beranjak. Hilirisasi yang digaungkan sejak beberapa tahun lalu belum mengubah struktur ekspor secara signifikan.

Migrasi ke Energi Impor Masih Jadi Celah

Defisit migas US$ 2,54 miliar pada Agustus 2026 berasal dari hasil minyak dan minyak mentah. Kilang dalam negeri belum mampu mengolah seluruh kebutuhan bahan bakar nasional, sehingga impor BBM tetap menjadi pos pengeluaran devisa terbesar.

"Sedangkan neraca perdagangan migas pada Agustus tahun 2026 mengalami defisit sebesar US$ 2,54 miliar, dengan komoditas penyumbang defisit terutama dari hasil minyak dan juga minyak mentah," jelas Ateng.

Defisit ini menjadi pengingat bahwa target swasembada energi yang digaungkan pemerintah masih jauh dari kenyataan. Setiap kenaikan harga minyak dunia langsung menggerus surplus perdagangan yang sudah susah payah dikumpulkan dari sektor nonmigas.

Impor Tumbuh Lebih Cepat dari Ekspor

Laju impor 19,09 persen secara tahunan jauh melampaui pertumbuhan ekspor 6,72 persen. Selisih ini menandakan permintaan domestik pulih, tetapi juga bisa menjadi sinyal bahwa industri dalam negeri masih bergantung pada bahan baku dan barang modal impor.

Kalau tren ini berlanjut, surplus perdagangan bisa tergerus dalam beberapa bulan ke depan. Terlebih, harga komoditas global seperti batu bara dan CPO cenderung fluktuatif mengikuti permintaan China yang belum sepenuhnya pulih.

Inflasi September 2026 Sentuh 3,28 Persen

Di sisi lain, BPS mencatat inflasi tahunan September 2026 sebesar 3,28 persen, naik dari IHK 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil terbesar 1,28 persen dengan inflasi 4,37 persen.

Ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin, dan daging sapi menjadi komoditas pendorong utama. Harga pangan yang masih bergejolak menunjukkan rantai pasok belum sepenuhnya stabil, terutama menjelang akhir tahun.

Kelompok transportasi mencatat inflasi 4,84 persen dengan andil 0,58 persen, dipicu harga bensin, tarif angkutan udara, dan oli mesin. Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak 7,77 persen dengan andil 0,53 persen, terutama karena harga emas perhiasan yang terus naik.

Penutup: Surplus US$ 3,55 miliar memang menjaga neraca perdagangan tetap positif, tetapi kualitasnya masih rapuh. Selama migas defisit dan impor tumbuh lebih cepat dari ekspor, Indonesia belum bisa lepas dari bayang-bayang krisis neraca berjalan. Pemerintah perlu mendorong hilirisasi yang benar-benar berjalan, bukan sekadar wacana di atas kertas.

Reporter: Sutomo
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top