BANDA ACEH — Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh merilis data inflasi September 2026 yang menempatkan Aceh Tengah di posisi tertinggi secara tahunan. Angka 5,86 persen itu jauh di atas rata-rata provinsi yang tercatat 5,03 persen secara year on year (yoy).
Empat wilayah penghitungan inflasi lain di Aceh, yakni Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh, dan Aceh Tamiang, semuanya juga mencatat inflasi tahunan. Namun tidak ada yang menyentuh angka Aceh Tengah.
Meulaboh mencatat inflasi tahunan paling rendah di Aceh, yaitu 3,61 persen. Selisih dengan Aceh Tengah mencapai lebih dari dua persen poin.
Kepala BPS Aceh Agus Andria menyebut kenaikan itu mencerminkan pergerakan harga barang dan jasa secara umum. "Artinya, harga barang dan jasa secara umum naik rata-rata sebesar 5,03 persen dibandingkan September tahun lalu," ujar Agus, Jumat (3/10/2026).
Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau memberi andil terbesar terhadap inflasi tahunan Aceh, yakni 1,92 persen. Beberapa komoditas menjadi pendorong utama kenaikan harga.
Sejumlah komoditas lain justru menahan laju inflasi. Cabai merah, bawang merah, baju muslim wanita, ikan kuniran, dan ikan bandeng tercatat memberi tekanan ke bawah pada indeks harga.
Dalam hitungan bulanan, Aceh Tengah juga mencatat inflasi tertinggi pada September 2026 sebesar 0,59 persen. Posisi itu mengulang capaian Aceh Tengah di periode yang sama secara tahunan.
Meulaboh menjadi satu-satunya daerah penghitungan inflasi di Aceh yang mengalami deflasi bulanan, yakni 0,04 persen. Sementara Banda Aceh mencatat inflasi bulanan terendah di antara daerah lain, sebesar 0,25 persen.
Data BPS Aceh ini menjadi acuan pemerintah daerah dalam menyusun langkah pengendalian harga, terutama untuk komoditas pangan yang menyumbang andil terbesar. Aceh Tengah, sebagai daerah dengan inflasi tertinggi, menghadapi tekanan harga yang lebih berat dibanding wilayah lain di provinsi itu.