ACEH — Pola makan ibu memang berperan pada komposisi asam lemak ASI, tapi bukan satu-satunya penentu. Sebuah tinjauan sistematis di jurnal Nutrients menemukan lemak menyumbang sekitar 50 persen energi ASI. Kenali tujuh faktor yang membuat kadar lemak ASI berubah sepanjang hari.
ASI bukan cairan dengan komposisi yang sama setiap kali bayi menyusu. Kadar lemaknya bisa berbeda dari satu sesi ke sesi berikutnya, bahkan dalam satu hari yang sama.
Perubahan ini adalah bagian dari proses fisiologis laktasi. Memahami faktor-faktornya membantu ibu lebih tenang saat melihat tekstur ASI yang berubah-ubah.
Sebuah penelitian di The American Journal of Clinical Nutrition menganalisis 308 sampel ASI dari 17 ibu selama lima minggu pertama setelah melahirkan. Peneliti menemukan kadar trigliserida, salah satu komponen utama lemak ASI, meningkat terutama pada minggu pertama pascapersalinan lalu relatif stabil.
Sementara itu, kadar kolesterol mengalami pola perubahan yang berbeda pada periode yang sama. Temuan ini menegaskan komposisi lemak ASI memang bergeser seiring perkembangan masa menyusui.
Pola makan ibu termasuk faktor yang memengaruhi komposisi asam lemak ASI. Tinjauan sistematis yang terbit pada 2024 menganalisis 27 studi observasional dan lima studi intervensi, dengan total 7.138 pasangan ibu dan bayi.
Hasilnya, konsumsi ikan pada ibu umumnya berkaitan dengan kadar beberapa asam lemak dalam ASI, termasuk ALA, DHA, dan EPA. Asupan PUFA dari makanan juga cenderung berkorelasi positif dengan konsentrasinya di ASI.
Meski begitu, peneliti menekankan hasil studi soal hubungan pola makan dan komposisi ASI masih beragam. Banyak penelitian bersifat observasional, jadi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa satu perubahan makanan langsung mengubah keseluruhan komposisi ASI.
Tingkat pengosongan payudara termasuk faktor yang cukup penting. Konsentrasi lemak cenderung meningkat saat ASI dikeluarkan dari payudara, baik lewat proses menyusui maupun pemerahan.
Karena itu, ASI yang keluar di awal sesi bisa berbeda kadar lemaknya dengan ASI yang keluar menjelang akhir sesi. Inilah yang sering dikaitkan dengan istilah foremilk dan hindmilk.
Keduanya sebenarnya bukan dua jenis ASI yang benar-benar terpisah. Kandungan lemak berubah bertahap seiring payudara makin kosong. ASI yang terlihat lebih encer di awal sesi tidak otomatis berarti kurang bergizi.
Jarak waktu antara satu sesi menyusui dan sesi berikutnya turut memengaruhi konsentrasi lemak. Penelitian pada 52 ibu menyusui di Guatemala meneliti variasi kandungan lipid ASI selama 24 jam.
Hasilnya, waktu dalam sehari dan jarak sejak pemberian ASI sebelumnya berhubungan dengan variasi kandungan lipid ASI. Studi yang sama juga menemukan perbedaan kandungan lipid antaribu berkaitan dengan berat badan dan indeks massa tubuh ibu.
Kadar lemak ASI tidak sama antara pagi dan malam. Temuan penelitian di Guatemala menunjukkan waktu pengambilan ASI menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan variasi kandungan lipid.
Artinya, membandingkan dua hasil pumping di jam berbeda tidak selalu apple to apple. Perbedaan hasil bisa jadi cerminan ritme alami tubuh, bukan tanda produksi ASI bermasalah.
Komposisi ASI bergeser mengikuti tahap laktasi, mulai dari kolostrum hingga ASI matang. Penelitian lima minggu pertama pascapersalinan menunjukkan kadar trigliserida naik di awal, lalu relatif stabil setelahnya.
Perubahan ini normal dan merupakan bagian dari proses fisiologis. Tubuh ibu menyesuaikan komposisi ASI dengan kebutuhan bayi di tiap tahap perkembangan.
Berat badan dan indeks massa tubuh ibu turut dikaitkan dengan perbedaan kandungan lipid ASI antaribu. Temuan ini muncul dari penelitian terhadap 52 ibu menyusui di Guatemala.
Karena itu, dua ibu dengan pola makan mirip bisa menghasilkan ASI dengan kadar lemak berbeda. Perbandingan antaribu bukan tolok ukur yang tepat untuk menilai kualitas ASI.
Yang berubah bukan hanya jumlah lemak, tapi juga jenisnya. Asupan ikan dan PUFA dari makanan ibu berkaitan dengan kadar ALA, DHA, dan EPA dalam ASI.
Asam lemak esensial ini dibutuhkan untuk perkembangan sistem saraf pusat dan retina bayi. Karena itu, variasi menu harian ibu tetap punya peran meski tidak menentukan total lemak ASI secara langsung.
Tidak perlu. Mengonsumsi makanan berlemak sebanyak-banyaknya tidak otomatis menaikkan total kandungan lemak ASI.
Yang lebih masuk akal adalah menjaga pola makan seimbang, termasuk sumber asam lemak seperti ikan. Fokus pada kualitas asupan, bukan sekadar mengejar kuantitas lemak.
Tekstur ASI yang tampak lebih cair di awal sesi menyusui adalah hal wajar. Kadar lemaknya memang lebih rendah dibanding ASI yang keluar menjelang akhir sesi.
Selama bayi menyusu dengan baik, tumbuh sesuai kurva, dan buang air lancar, tekstur ASI bukan indikator tunggal kecukupan gizi. Bila muncul kekhawatiran soal berat badan bayi atau produksi ASI, konsultasikan dengan dokter atau konselor laktasi.