Karhutla Berulang Ubah Ekosistem Gambut, Hutan Makin Rentan Terbakar

Penulis: Saiful  •  Rabu, 14 Oktober 2026 | 16:33:01 WIB
Lahan gambut yang terbakar berulang di Aceh mengalami hambatan regenerasi pohon dan didominasi vegetasi mudah terbakar.

ACEH — Kebakaran hutan dan lahan yang berulang di lahan gambut terbukti menghambat regenerasi pohon dan mendorong dominasi vegetasi mudah terbakar seperti pakis serta semak. Penelitian di jurnal Nature Communications (2024) dan Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Desember 2025) menunjukkan lahan yang terbakar berulang pulih lebih lambat dibandingkan area yang hanya terbakar sekali. Temuan ini menegaskan pemulihan gambut tidak cukup dengan penghijauan, tetapi harus disertai pengelolaan air dan pencegahan kebakaran baru.

Kebakaran yang terjadi berulang di lahan gambut tidak sekadar menghanguskan vegetasi di permukaan. Proses tersebut mengubah komposisi ekosistem secara permanen, sehingga lahan yang tampak hijau kembali belum tentu memiliki daya tahan seperti hutan asalnya.

Studi bertajuk "Tropical Peat Composition May Provide a Negative Feedback on Fire Occurrence and Severity" yang terbit di jurnal Nature Communications pada 2024 menjadi salah satu rujukan utama soal mekanisme ini. Penelitian tersebut menemukan bahwa kebakaran yang makin sering atau makin parah menekan pertumbuhan kembali pohon dan menggeser komposisi vegetasi ke arah komunitas pakis serta tumbuhan sejenis rumput yang lebih mudah terbakar.

Mengapa Kebakaran Berulang Memperparah Kerentanan

Para peneliti menyebut hilangnya tutupan pohon sebagai pemicu utama risiko penyalaan api berikutnya. "Kebakaran awal dapat meningkatkan risiko penyalaan api berikutnya karena hilangnya tutupan pohon membuat kondisi lingkungan menjadi lebih kering," tulis mereka dalam studi tersebut.

Mekanismenya bekerja berlapis. Ketika pohon mati dan tutupan hutan berkurang, kelembapan mikroklimat ikut menurun. Batang mati dan vegetasi yang tumbuh setelah kebakaran berubah menjadi bahan bakar begitu mengering. Kondisi ini diperparah jika gambut dikeringkan oleh kanal drainase, yang membuat risiko kebakaran berulang semakin besar.

Bukti Lapangan dari Lahan Gambut Sumatera

Temuan serupa muncul dari penelitian di lahan gambut Sumatera yang diterbitkan dalam Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan pada Desember 2025. Vegetasi di area yang terbakar berulang pulih lebih lambat dan lebih tidak merata dibandingkan area yang hanya terbakar sekali.

Survei lapangan dalam penelitian itu juga mencatat struktur hutan yang lebih sederhana. Kerapatan pohon berkurang, sementara semak dan pakis mendominasi. Artinya, lahan yang terlihat kembali hijau setelah karhutla belum tentu kembali menjadi hutan dengan struktur dan daya tahan seperti semula.

Jika kebakaran kembali terjadi sebelum ekosistem pulih, proses regenerasi dapat makin terhambat. Kondisi ini menciptakan lingkaran yang merugikan: hutan yang gagal pulih menyimpan lebih sedikit kelembapan, dan lahan yang lebih kering lebih mudah terbakar lagi pada musim kemarau berikutnya.

Implikasi bagi Pemulihan Gambut di Indonesia

Lahan gambut menjadi perhatian karena menyimpan karbon dalam jumlah besar dan mencakup area luas di Sumatera dan Kalimantan. Karhutla di ekosistem ini tidak hanya berdampak pada hilangnya tutupan hutan, tetapi juga pada pelepasan emisi yang sulit ditarik kembali.

Para peneliti menekankan pentingnya pencegahan kebakaran berulang sebagai bagian dari strategi pemulihan gambut. Upaya pemulihan vegetasi perlu disertai pengelolaan air dan perlindungan terhadap kebakaran baru, agar tumbuhan asli memiliki kesempatan untuk tumbuh kembali.

Pendekatan ini berbeda dari sekadar penanaman ulang setelah kebakaran. Tanpa pengelolaan air yang menjaga kelembapan gambut dan tanpa perlindungan dari kebakaran susulan, bibit yang ditanam berisiko gagal tumbuh dan siklus kerentanan akan berlanjut.

Bagi pemerintah daerah dan pengelola lahan, temuan ini memberi sinyal bahwa pemulihan pascakarhutla memerlukan pemantauan jangka panjang, bukan hanya intervensi satu kali. Indikator keberhasilan pun perlu bergeser dari luas area yang menghijau kembali ke struktur ekosistem yang pulih.

Reporter: Saiful
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top