ACEH — RiderTua.com – Angka penjualan wholesales mobil nasional untuk Mei 2026 tercatat 69.219 unit, ambles 14,3 persen dari bulan sebelumnya. Sementara dari sisi ritel, penjualan juga menipis 5,1 persen menjadi 71.890 unit. Padahal bulan April lalu pasar sempat menunjukkan sinyal pemulihan dengan torehan di atas 80 ribu unit.
Meski secara kumulatif Januari–Mei 2026 masih positif—retail naik 8,8 persen ke 359.490 unit dan wholesales tumbuh 12,8 persen ke 359.015 unit—performanya goyang per bulan. Penurunan di Mei ini merupakan kali kedua tahun ini, setelah sebelumnya penjualan limbung akibat libur Lebaran yang mengganggu rantai produksi dan pengiriman.
Nilai Tukar Rupiah dan Harga BBM Menekan Daya Beli
Kondisi makro ekonomi menjadi pemicu utama. Nilai tukar rupiah yang terus bergejolak membuat harga jual mobil serta suku cadang ikut terpengaruh. Calon konsumen dihadapkan pada biaya kepemilikan yang terus membengkak—dari cicilan, perawatan berkala, hingga harga BBM yang naik drastis.
Produsen mengakui tekanan ini membuat konsumen semakin selektif. Keputusan membeli mobil baru kerap ditunda karena pertimbangan biaya operasional yang membesar, terutama di segmen entry-level dan menengah yang sensitif terhadap harga.
Insentif Mobil Listrik Mandek, Konsumen Menahan Diri
Insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) yang sudah disiapkan sejak bulan lalu ternyata belum juga direalisasikan. Penerapannya baru bisa efektif pada Juni 2026. Program ini sempat dihentikan awal tahun, dan banyak calon pembeli memilih wait and see hingga kepastian diskon atau keringanan pajak benar-benar berlaku.
Dampaknya langsung terasa. Penjualan BEV di Mei diprediksi ikut tersendat meski data final belum dirilis. Jaecoo J5 EV yang sebelumnya menjadi model BEV terlaris hingga April harus menghadapi tekanan dari trio BYD—M6, Sealion 7, dan Atto 1—yang terus mengancam posisinya.
Hybrid Masih Bertahan, PHEV Ikut Tertekan
Segmen hybrid masih menunjukkan ketahanan. Kijang Innova Zenix HEV misalnya, masih laris manis. Namun untuk mobil PHEV (plug-in hybrid), nasibnya diperkirakan tak lebih baik dari BEV. Meski pilihan model PHEV kini lumayan banyak, volume penjualan yang hanya bertahan di ratusan unit per bulan belum cukup untuk menopang pertumbuhan pasar.
Dengan kombinasi daya beli tergerus, harga BBM tinggi, dan insentif yang molor, produsen menghadapi tantangan berat untuk memulihkan laju penjualan hingga akhir 2026. Jika kondisi terus memburuk, bukan tidak mungkin angka penjualan tahun ini mendekati titik terendah seperti 2020. Bagi merek sekelas Toyota sekalipun, pemulihan membutuhkan waktu dan kondisi pasar yang stabil. Selama harga mobil dan suku cadang terus naik, potensi rebound di bulan-bulan mendatang masih suram.