ACEH — Berdasarkan data pasar yang diterima, rupiah dibuka pada level Rp17.859 per dolar AS, naik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.922 per dolar AS. Pergerakan ini memutus tren pelemahan yang terjadi pada pekan lalu.
Pada perdagangan Kamis (25/6), rupiah sempat terperosok ke level Rp17.967 per dolar AS. Bahkan, pada Rabu (24/6) pagi, mata uang Garuda melemah 0,40 persen akibat kekhawatiran suku bunga tinggi The Fed yang berlangsung sepanjang 2026.
Sentimen Domestik: Impor Solar Akan Disetop
Katalis positif datang dari kebijakan energi nasional. Pemerintah memastikan mulai tahun ini tidak akan lagi mengimpor solar sebanyak 300.000 barel per hari. Langkah ini dinilai mampu menekan kebutuhan devisa untuk impor migas, yang selama ini menjadi salah satu faktor tekanan pada neraca perdagangan dan nilai tukar.
Kebijakan tersebut juga berpotensi memperbaiki defisit transaksi berjalan dan memperkuat fundamental ekonomi domestik di mata investor asing.
Tekanan Eksternal Masih Membayangi
Meski menguat di sesi pembukaan, pergerakan rupiah sepanjang hari ini diperkirakan masih volatil. Pelaku pasar mencermati rilis data ekonomi terbaru dan arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Sepanjang pekan lalu, rupiah berada dalam tekanan akibat sentimen hawkish The Fed dan kenaikan harga minyak dunia. Pada Senin (22/6), rupiah dibuka melemah ke Rp17.813 per dolar AS karena ketegangan geopolitik AS-Iran yang mendongkrak harga minyak.
Pergerakan Rupiah Pekan Lalu (22-26 Juni 2026)
- Senin (22/6): Rp17.813 per dolar AS (melemah, terdampak harga minyak & geopolitik)
- Selasa (23/6): Rp17.859 per dolar AS (melemah 16 poin)
- Rabu (24/6): Rp17.931 per dolar AS (melemah 0,40%)
- Kamis (25/6): Rp17.967 per dolar AS (melemah 15 poin)
- Senin (29/6): Rp17.859 per dolar AS (menguat 63 poin)
Investor disarankan mencermati dinamika pasar hingga penutupan perdagangan sore nanti. Data ekonomi domestik dan pernyataan pejabat The Fed akan menjadi penentu arah rupiah selanjutnya.