LHOKSEUMAWE — Sebanyak 50 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Lhokseumawe mendapat pendampingan pengembangan ekosistem halal dalam seminar bertajuk “Peluang dan Tantangan dalam Pengembangan Ekosistem Halal Berkelanjutan”. Sembilan di antaranya merupakan anggota kelompok binaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Integrated Terminal (IT) Lhokseumawe.
Seminar itu menghadirkan narasumber dari berbagai instansi. Kepala RRI Lhokseumawe memaparkan peran media dalam mempromosikan pariwisata halal, sementara Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Pangan Kota Lhokseumawe mengulas potensi produk lokal dan ketahanan pangan. Kementerian Agama Kota Lhokseumawe memberikan materi soal sertifikasi halal, dan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM membahas strategi penguatan industri halal yang berdaya saing.
Sertifikat Halal Diserahkan ke Salah Satu UMKM Lokal
Puncak acara ditandai dengan penyerahan sertifikat halal kepada salah satu UMKM binaan. Penyerahan itu menjadi simbol komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas produk dan kepercayaan konsumen.
Ketua Umum GESID Halal Center Lhokseumawe, Maimun Saleh, menekankan bahwa pengembangan industri halal membutuhkan sinergi lintas sektor. “Melalui kolaborasi yang kuat, pelaku UMKM diharapkan tidak hanya mampu memenuhi standar halal, tetapi juga semakin kompetitif sehingga dapat berkembang dan bersaing di tingkat regional maupun nasional,” ujarnya.
Pertamina: Ekosistem Halal Buka Peluang Ekonomi Baru
Supervisor HSSE & Fleet Safety Pertamina Patra Niaga IT Lhokseumawe, Arnoldus Setyawan, menyebut sektor halal memiliki potensi besar untuk meningkatkan daya saing UMKM. “Pertamina meyakini penguatan ekosistem halal dapat menjadi strategi dalam meningkatkan daya saing UMKM. Melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, kami berharap tercipta ekosistem yang saling mendukung sehingga produk-produk lokal mampu berkembang secara berkelanjutan,” kata Setyawan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat kapasitas UMKM. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, media, dunia usaha, dan komunitas menjadi kunci agar produk lokal tidak hanya memenuhi standar kehalalan, tetapi juga punya peluang lebih besar di pasar yang lebih luas.
Fahrougi menjelaskan, program ini merupakan implementasi TJSL Pertamina yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 9 mengenai industri dan inovasi, SDG 11 tentang kota berkelanjutan, serta SDG 17 yang menekankan kemitraan dalam membangun ekosistem halal yang inklusif.