PIDIE JAYA — Tiga bulan setelah banjir merendam rumah dan tempat produksi, Emping Melinjo Kak Bit di Desa Mesjid Tuha, Meureudu, masih berjalan tertatih. Kapasitas produksi turun drastis dari 150 kilogram menjadi hanya 50 kilogram per bulan. Sebagian besar alat pemipil dan mesin pengolah hanyut atau rusak berat.
Stok emping yang sudah siap kirim—sekitar puluhan kilogram—ikut terendam lumpur. “Banyak alat produksi yang rusak, stok yang sudah siap jual juga ikut terendam,” kata Khairul Mizan kepada Waspada Aceh, Sabtu (18/7/2026).
Dari Lima Pekerja Tersisa Dua
Sebelum bencana, usaha binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pidie Jaya ini mempekerjakan lima warga sekitar, mayoritas ibu rumah tangga. Kini hanya Muliani (46) dan Maulizar (36) yang bertahan. Keduanya tetap bekerja meski rumah mereka sendiri masih bersisa lumpur.
Pekerja lainnya terpaksa berhenti karena produksi tak lagi membutuhkan banyak tenaga. “Setelah banjir, bahan baku juga sulit didapat karena banyak pohon melinjo warga yang mati,” ujar Khairul. Pohon melinjo yang terendam air terlalu lama mati, membuat pasokan langka dan harga melonjak.
Pelatihan Digital Jadi Jalan Kebangkitan
Di tengah keterbatasan, Khairul bersama puluhan pelaku UMKM penyintas banjir dari Pidie Jaya, Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan Bener Meriah mengikuti pelatihan pemasaran digital selama dua pekan. Materi meliputi pembuatan konten menarik, pengemasan rapi, dan siaran langsung di media sosial.
Pengetahuan itu mengubah cara pandangnya. Teras rumah yang dulu tempat berkumpul keluarga kini disulap menjadi lokasi produksi, pengemasan, sekaligus panggung promosi. “Harapannya usaha ini bisa kembali seperti dulu. Yang penting bisa terus berjalan dan membuka kesempatan kerja lagi bagi warga sekitar,” kata Khairul.
Dengan perpaduan keterampilan lokal dan jangkauan digital, Emping Melinjo Kak Bit berusaha bangkit dari lumpur banjir. (*)