ACEH — Telkom tengah merombak portofolio bisnisnya secara drastis. Dari 67 entitas yang terdiri atas 58 anak perusahaan dan sembilan investasi minoritas, sebanyak 34 entitas akan masuk program streamlining atau penataan ulang. Langkah ini bukan sekadar pengurangan jumlah badan usaha, melainkan upaya membentuk organisasi yang lebih ramping, efisien, dan kompetitif.
Mengapa Telkom Percepat Transformasi Sekarang?
Tekanan untuk beradaptasi datang dari perubahan lanskap industri telekomunikasi yang bergerak cepat. Dengan struktur yang lebih sederhana, pengambilan keputusan di internal Telkom diharapkan berlangsung lebih cepat. Efisiensi operasional juga menjadi sasaran utama, diikuti dengan penguatan fokus bisnis inti.
Agenda percepatan ini mengemuka dalam pertemuan jajaran direksi Telkom dengan Dony Oskaria pada 6 Agustus 2026. Dalam forum tersebut, pembahasan tidak hanya berputar pada soal struktur organisasi. Percepatan program streamlining dan penguatan leadership pipeline menjadi dua agenda strategis lain yang tak kalah penting.
Seluruh rangkaian langkah ini diarahkan untuk memperkuat tata kelola perusahaan. Sinergi bisnis antar-entitas di ekosistem Telkom juga diharapkan berjalan lebih optimal, yang pada akhirnya mendorong penciptaan nilai jangka panjang bagi perusahaan.
Menuju Pemain Digital Kelas Global
Transformasi yang dijalankan Telkom bukan proyek internal semata. BP BUMN dan Danantara melihat langkah ini sebagai bagian dari upaya yang lebih besar, yakni mendorong BUMN telekomunikasi itu menjadi pemain digital nasional yang adaptif dan mampu bersaing di tingkat global.
Untuk mencapai level tersebut, penyederhanaan struktur saja tidak cukup. Penguatan talenta dan kualitas kepemimpinan menjadi pilar penting dalam agenda transformasi. Kombinasi organisasi yang ramping dengan sumber daya manusia mumpuni dinilai sebagai kunci untuk mendorong inovasi di tubuh perusahaan.
Dengan portofolio yang lebih fokus, Telkom tidak hanya membidik perbaikan kinerja dan daya saing. Perusahaan juga diharapkan memperkuat kontribusinya dalam mempercepat transformasi digital di Indonesia, sejalan dengan kebutuhan pasar lokal yang terus berkembang.
Langkah efisiensi ini menjadi babak penting bagi Telkom yang selama ini dikenal sebagai penguasa infrastruktur telekomunikasi tanah air. Ke depan, publik akan melihat apakah perampingan ini mampu membuat raksasa telekomunikasi itu bergerak secepat startup digital yang menjadi pesaingnya.