Pencarian

BI Catat Harga Properti Residensial Naik 0,69% pada Kuartal II 2026, Penjualan Rumah Mulai Pulih

Minggu, 09 Agustus 2026 • 08:32:01 WIB
BI Catat Harga Properti Residensial Naik 0,69% pada Kuartal II 2026, Penjualan Rumah Mulai Pulih
Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal II 2026 tercatat 110,89, tumbuh 0,69 persen secara tahunan.

ACEH — Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal II 2026 mencapai 110,89, atau tumbuh 0,69 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2026 yang tercatat 0,62 persen (yoy), berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dirilis Jumat (7/8/2026).

Kenaikan indeks harga tersebut utamanya ditopang oleh peningkatan harga rumah tipe besar. Indeks harga untuk segmen ini tercatat sebesar 108,41 dengan pertumbuhan 0,68 persen (yoy), naik dibandingkan capaian kuartal I 2026 yang sebesar 0,50 persen (yoy). Sementara itu, pertumbuhan harga rumah tipe kecil justru melambat ke level 0,49 persen (yoy) dari sebelumnya 0,61 persen (yoy), dengan indeks berada di angka 113,89.

Adapun indeks harga rumah tipe menengah berada di level 114,01 dengan pertumbuhan yang relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya.

Penjualan Rumah Mulai Berbalik Arah

Kondisi pasar properti residensial di pasar primer menunjukkan titik terang. Secara kuartalan, penjualan rumah berhasil tumbuh 9,39 persen (quarter to quarter/qtq), berbalik tajam dari kontraksi 7,69 persen (qtq) pada kuartal I 2026. Perbaikan ini didorong oleh meningkatnya penjualan rumah tipe kecil dan tipe besar, sementara segmen menengah masih relatif terbatas.

Meski secara tahunan penjualan masih terkontraksi 2,36 persen (yoy), angka ini merupakan perbaikan besar dibandingkan kuartal sebelumnya yang minus 25,67 persen (yoy). Data ini menjadi sinyal awal pemulihan sektor properti yang sempat terpukul oleh tingginya suku bunga dan tekanan biaya konstruksi.

Biaya Bahan Bangunan dan Suku Bunga KPR Jadi Hambatan Utama

Hasil survei BI mengungkap sejumlah tantangan yang masih membayangi pengembang. Kenaikan harga bahan bangunan menjadi hambatan utama dengan porsi 27,10 persen, disusul suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 15,96 persen, dan perizinan atau birokrasi sebesar 14,87 persen. Faktor lain yang turut memberatkan adalah tingginya uang muka KPR (11,53 persen) dan beban perpajakan (9,75 persen).

Menariknya, suku bunga KPR pada kuartal II 2026 tercatat stabil di level 7,44 persen, tidak berubah dibandingkan kuartal sebelumnya. Stabilitas suku bunga ini kemungkinan menjadi salah satu faktor yang membantu mendorong perbaikan penjualan rumah, terutama bagi calon pembeli yang memanfaatkan skema pembiayaan perbankan.

Pembiayaan Masih Bertumpu pada Dana Internal

Dari sisi pembiayaan pembangunan, pengembang properti residensial masih sangat bergantung pada dana internal perusahaan. Pangsa dana internal mencapai 73,28 persen dari total kebutuhan pembiayaan. Ketergantungan yang tinggi pada kas internal ini menunjukkan bahwa ekspansi pengembang masih berhati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi dan biaya pinjaman yang relatif tinggi.

Dengan tren perbaikan penjualan dan stabilitas harga yang terjaga, pasar properti residensial diperkirakan akan terus bertumbuh secara moderat pada semester kedua 2026, sepanjang daya beli masyarakat dan kondisi suku bunga tetap mendukung.

Follow pantauaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: money.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks