ACEH — Laporan keuangan kuartal II 2026 yang dirilis pekan ini menjadi katalis negatif bagi pergerakan saham Tesla di bursa Amerika Serikat. Padahal, secara top-line, pendapatan perusahaan besutan Elon Musk ini tercatat solid. Namun, sorotan pasar justru tertuju pada profitabilitas yang terkoreksi, membuat investor memilih wait and see.
Sebelumnya, saham Tesla sempat mencatat kenaikan 6,8% dalam sepekan terakhir, didorong oleh optimisme pasar terhadap ekspansi layanan Robotaxi ke tujuh kota baru di Amerika Serikat. Namun, momentum tersebut sirna setelah angka laba per saham (EPS) aktual diumumkan lebih rendah dari konsensus analis.
Pendapatan Naik 25,5%, tapi Profitabilitas Menjadi Sorotan
Secara year-on-year, pendapatan Tesla pada kuartal kedua 2026 tumbuh signifikan. Angka US$28,24 miliar yang dibukukan menunjukkan permintaan kendaraan listrik masih kuat, terutama didukung oleh penjualan model entry-level dan insentif pajak federal yang berlaku di AS.
Meski pendapatan menjanjikan, biaya operasional yang membengkak untuk pengembangan proyek Robotaxi dan Optimus menekan margin laba. Kondisi ini yang kemudian membuat EPS aktual tidak mampu mencapai target yang dipatok para analis pasar modal.
Ekspansi Robotaxi dan Produksi Cybercab Jadi Katalis Jangka Panjang
Di tengah tekanan jangka pendek, manajemen Tesla tetap optimistis dengan pertumbuhan bisnis di paruh kedua tahun ini. Ekspansi layanan Robotaxi yang kini menjangkau tujuh kota besar di AS diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan berulang (recurring revenue) yang lebih stabil dibanding penjualan unit kendaraan.
Selain itu, persiapan lini produksi untuk Cybercab—robotaxi tanpa setir yang dirancang khusus—juga terus berjalan. Produksi massal kendaraan ini ditargetkan mulai berjalan dalam beberapa kuartal ke depan, seiring dengan pemasangan lini perakitan baru untuk robot humanoid Optimus di pabrik Fremont dan Gigafactory Texas.
Proyeksi Harga Saham: Potensi Rebound di Tengah Koreksi 23%
Hingga saat ini, harga saham Tesla masih tercatat melemah 23% sepanjang tahun berjalan (year-to-date). Koreksi ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap valuasi yang dinilai terlalu tinggi dibanding fundamental bisnis otomotifnya yang cenderung stagnan.
Namun, sejumlah analis melihat penurunan ini sebagai titik masuk yang menarik. Jika ekspansi Robotaxi mampu menunjukkan utilisasi yang tinggi dan lini produksi Optimus berjalan mulus tanpa hambatan teknis berarti, bukan tidak mungkin saham Tesla akan kembali menguji level tertingginya dalam 12 bulan ke depan.
Pasar kini menunggu data pengiriman kendaraan kuartal ketiga serta laporan laba berikutnya untuk melihat apakah dorongan dari sektor layanan dan robotika sudah mulai terlihat kontribusinya terhadap neraca keuangan perusahaan.