BANDA ACEH — Lantunan Selawat Badar mengiringi kedatangan Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy ke panggung utama saat pembukaan Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II. Rangkaian acara diisi pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sambutan, khutbah iftitah, peluncuran buku, hingga zikir dan doa bersama. Jemaah yang hadir mencakup ulama, tamu undangan, dan perwakilan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) dari 23 kabupaten/kota di Aceh.
Delegasi mancanegara datang dari Turki, Maroko, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Arab Saudi, Kamboja, Mesir, Palestina, Filipina, dan Suriah. Peserta dari luar Aceh juga hadir dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Ternate. Hadir pula perwakilan Polda Aceh, Kodam Iskandar Muda, serta anggota DPRA.
Tasawuf sebagai Jalan Membersihkan Hati dan Menahan Ego
Dalam sambutan gubernur yang dibacakan Taufik, Pemerintah Aceh menekankan tasawuf memiliki pesan penting untuk kehidupan bersama: membersihkan hati, menghaluskan akhlak, menahan ego, dan menghormati sesama.
"Ilmu yang tinggi tanpa kerendahan hati dapat melahirkan kesombongan, sementara ibadah yang banyak tanpa akhlak dapat kehilangan makna sosialnya," ujar Taufik saat membacakan sambutan tersebut.
Pesan itu dikaitkan dengan pengalaman Aceh membangun perdamaian. Kesediaan saling memahami dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok dinilai menjadi nilai yang perlu terus tumbuh melalui pertemuan para ulama.
Warisan Hamzah Fansuri hingga Nuruddin Ar-Raniri
Pemerintah Aceh mengingatkan kedekatan daerah ini dengan tradisi keilmuan tasawuf melalui warisan pemikiran tokoh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Syekh Abdurrauf As-Singkili, dan Nuruddin Ar-Raniri.
"Semoga pertemuan ini tidak berhenti sebagai forum diskusi saja, akan tetapi melahirkan gagasan dan gerakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh umat," demikian harapan gubernur dalam sambutan yang dibacakan Taufik.
Buku Kemanisan Beragama dan Pesan Ihsan Menteri Agama
Ketua Umum MPTT-I, Abi Sahal Tastari Waly, menyampaikan penghargaan kepada para ulama dan jemaah yang datang dari berbagai penjuru. Ia berharap muzakarah menjadi ruang untuk memperkuat pembelajaran dan pengamalan tauhid tasawuf sekaligus mengharumkan nama Aceh di mata dunia.
Rangkaian pembukaan ditandai peluncuran buku Kemanisan Beragama karya Abuya Amran Waly. Abi Sahal menyebut buku tersebut merupakan karya ketujuh Abuya, yang lahir dari kegiatan menulis risalah selama hampir dua dekade.
Buku itu memuat sambutan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Saat membacakan sambutan tersebut, Abi Sahal menyampaikan pesan tentang pentingnya dimensi ihsan yang tercermin dalam akhlak, kepedulian, dan kehidupan bersama.
1.820 Personel Gabungan dan 250 Khadam Ummat Amankan Acara
Untuk mendukung pelaksanaan muzakarah pada 9-11 Oktober 2026, sebanyak 1.820 personel gabungan disiapkan. Personel terdiri atas unsur Polri, TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan pemadam kebakaran. Pengamanan internal turut didukung 250 personel Khadam Ummat.
Dalam khutbah iftitah, Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy menekankan pentingnya memahami agama secara utuh melalui Islam, iman, dan ihsan. Ia menjelaskan pengamalan tasawuf berkaitan dengan pembentukan akhlak, keikhlasan beribadah, serta upaya membersihkan hati dari kedengkian dan kesombongan.
Menjelang akhir acara, jemaah mengikuti zikir bersama yang dipandu Abah Sayid Fairus Satar. Abuya Amran Waly kemudian memimpin doa sebelum rangkaian pembukaan ditutup sekitar pukul 22.30 WIB.