BANDA ACEH — Mahasiswa Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry melakukan praktik lapangan di Museum Aceh untuk mendalami ribuan naskah kuno. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah wajib Praktikum dan Pemeliharaan Naskah Kuno guna memperkuat kompetensi filologi mahasiswa.
Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa berinteraksi langsung dengan sumber primer yang menjadi bukti kejayaan intelektual Aceh di masa lampau. Mereka tidak lagi sekadar membedah teori di ruang kelas, melainkan turun langsung melakukan identifikasi fisik terhadap koleksi museum.
Kepala Seksi Koleksi dan Bimbingan Edukasi Museum Aceh, Nurhasanah, mengungkapkan bahwa institusinya saat ini mengelola ribuan naskah yang siap diakses oleh kalangan akademisi. Koleksi tersebut mencakup berbagai disiplin ilmu klasik yang ditulis oleh para ulama dan intelektual Aceh terdahulu.
“Seluruh manuskrip yang tersimpan di Museum Aceh dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kajian akademik, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan,” ujar Nurhasanah di hadapan mahasiswa dan tim kurator filologika museum.
Pihak museum membuka pintu bagi peneliti yang ingin menggali data dari 1.934 bundel manuskrip tersebut. Kerja sama ini diharapkan mampu menghidupkan kembali khazanah literasi Aceh yang selama ini tersimpan di ruang koleksi.
Dosen pengampu mata kuliah sekaligus filolog Aceh, Hermansyah, menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah proses dokumentasi tematik. Meski jumlah naskah mencapai ribuan, belum semuanya terdata secara spesifik berdasarkan isi kajiannya.
“Museum Aceh merupakan lumbung manuskrip yang menyimpan banyak naskah kuno dan berbagai sumber primer penting yang dapat menjadi bahan kajian bagi mahasiswa maupun peneliti,” kata Hermansyah.
Hermansyah menyebutkan, keterbatasan dokumentasi rinci menyulitkan peneliti saat mencari topik spesifik, seperti pengobatan tradisional, hukum adat, kuliner, hingga pemikiran keislaman. Kondisi inilah yang mendorong perlunya keterlibatan mahasiswa dalam melakukan inventarisasi awal.
Praktikum lapangan ini dirancang agar mahasiswa memiliki keterampilan praktis dalam merawat dan mendokumentasikan warisan sejarah. Mahasiswa diajarkan melakukan identifikasi fisik hingga kajian deskriptif yang menjadi fondasi utama dalam penelitian filologi.
“Pendekatan lapangan seperti ini penting agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dalam merawat, mendokumentasikan, dan mengkaji manuskrip secara langsung,” pungkas Hermansyah.
Langkah ini sekaligus memperkuat kolaborasi antara UIN Ar-Raniry dan Museum Aceh. Melalui program edukatif, konservasi, dan diskusi ilmiah yang berkelanjutan, kedua lembaga berupaya melahirkan generasi filolog muda yang mampu menjaga keberlangsungan identitas budaya lokal Aceh di era modern.