Hotta Studio resmi memperkenalkan Neverness to Everness sebagai penantang baru di genre urban open-world dengan mekanik yang menyerupai seri Grand Theft Auto. Visual memukau dan karakter unik memang menjadi daya tarik utama. Namun, gim ini harus berjuang melawan risiko kejenuhan pasar gacha global yang kian kompetitif.
Hotta Studio, kreator Tower of Fantasy, mencoba mendobrak dominasi HoYoverse melalui proyek ambisius Neverness to Everness (NtE). Gim ini memadukan estetika anime dengan kebebasan eksplorasi ala Grand Theft Auto di kota futuristik Hethereau. Pemain bisa memiliki properti, memodifikasi mobil, hingga mengelola bisnis di tengah kemegahan metropolitan tersebut.
NtE menawarkan simulasi kehidupan kota yang kompleks, jauh melampaui eksplorasi alam liar gim gacha konvensional. Pemain dapat membeli kafe, mengelola stok bahan makanan, hingga melakukan "carjacking" di jalanan. Fitur City Tycoon menjadi mesin utama untuk meraup Fons, mata uang untuk membeli aset properti dan kosmetik.
Ambisi besar ini membawa risiko klasik gim layanan langsung: kejenuhan konten. Terdapat tiga elemen kunci yang membentuk ekosistem unik di dalam NtE:
Hambatan muncul setelah puluhan jam bermain akibat sistem level-gating yang memaksa pemain melakukan aktivitas repetitif. Progres cerita utama sering kali tertahan syarat level yang menuntut penyelesaian sembilan jenis mini-game serupa setiap minggunya. Pola ini berisiko mengubah keseruan eksplorasi menjadi rutinitas yang menjemukan.
Kota Hethereau terasa hidup berkat desain karakter karismatik, seperti kelompok pemburu anomali Eibon. Sosok Hitori yang gemar minum atau Tageydo berkepala televisi memberi warna pada narasi berkualitas tinggi. Sayangnya, interaksi di luar misi utama terasa kurang dinamis, membuat kota besar ini tampak seperti cangkang kosong.
Hotta Studio melakukan perombakan revolusioner pada sistem monetisasi dengan menghapus mekanisme "50/50" yang lazim di industri gacha. Pemain kini mendapat jaminan karakter S-Class pada tarikan ke-90 dengan peluang 100 persen. Langkah agresif ini menyasar pemain yang frustrasi dengan sistem probabilitas di gim kompetitor.
Transparansi ini dibarengi visualisasi gacha unik berbentuk papan permainan (board game) menggunakan dadu. Elemen psikologis ini menjadi pedang bermata dua karena memicu sensasi "sedikit lagi" yang mendorong pemain terus berbelanja. Strategi ini secara cerdik memanfaatkan rasa penasaran pemain untuk mengejar petak karakter S-Class.
Neverness to Everness berpotensi menjadi standar baru gim urban open-world jika mampu mengatasi masalah konten repetitif. Tanpa variasi mini-game yang segar, gim ini berisiko hanya menjadi persinggahan sementara bagi pemain veteran. Hotta Studio harus segera membuktikan bahwa Hethereau lebih dari sekadar visual yang memukau.