Rupiah Kembali Tertekan ke Rp 17.864, Simak Kurs Jual-Beli di BCA, Mandiri, dan BNI per 2 Juni 2026

Penulis: Fajar  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 10:38:01 WIB
Rupiah melemah ke Rp 17.864 per dolar AS pada perdagangan pagi 2 Juni 2026.

ACEH — Tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di tengah penguatan dolar AS secara global. Hingga pukul 09.38 WIB, mata uang Garuda tercatat melemah 0,33 persen menjadi Rp 17.864 per dolar AS. Pergerakan ini kontras dengan IHSG yang menguat ke posisi 6.217 pada perdagangan hari ini.

Perbandingan Kurs di Tiga Bank Nasional

Bagi pelaku bisnis atau investor yang hendak melakukan transaksi valuta asing, berikut kurs dolar AS di Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) per pukul 09.38 WIB:

BCA menawarkan kurs e-Rate untuk transaksi melalui e-Banking dengan harga beli Rp 17.878 per dolar AS dan harga jual Rp 17.898 per dolar AS. Sementara untuk transaksi di kantor cabang (TT Counter), BCA mematok harga beli Rp 17.690 dan harga jual Rp 17.940. Khusus transaksi dengan nominal besar di atas 25.000 dolar AS, tersedia special rate dengan kurs beli Rp 17.865 dan jual Rp 17.895.

Bank Mandiri menetapkan kurs TT Counter untuk pembelian di level Rp 17.640 per dolar AS dan penjualan di Rp 17.940 per dolar AS. Untuk transaksi bank notes, harga beli dipatok Rp 17.625 dan harga jual Rp 17.925. Kurs ini berlaku sebagai indikasi bagi nasabah yang bertransaksi di atas 25.000 dolar AS.

BNI juga menyediakan layanan transaksi valas dengan kisaran kurs yang kompetitif. Nasabah disarankan menghubungi cabang terdekat untuk mendapatkan kurs pasti, terutama untuk transaksi bernilai besar.

Faktor di Balik Pelemahan Rupiah

Pelemahan rupiah pagi ini terjadi saat indeks dolar AS masih menunjukkan kekuatan di pasar global. Tekanan eksternal seperti ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menariknya, IHSG justru mampu menguat ke 6.217 pada saat yang bersamaan. Hal ini mengindikasikan bahwa aliran modal asing masih masuk ke pasar saham, namun belum cukup kuat untuk menopang nilai tukar rupiah.

Apa Artinya bagi Pelaku Pasar?

Bagi importir atau perusahaan yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS, pelemahan rupiah ini berarti biaya impor akan semakin mahal. Sebaliknya, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS bernilai lebih tinggi dalam rupiah.

Untuk investor ritel yang hendak menukarkan valas, penting memperhatikan selisih antara kurs beli dan jual (spread) di masing-masing bank. BCA misalnya, memiliki spread e-Rate yang cukup ketat sekitar 20 poin, sementara spread di TT Counter dan bank notes lebih lebar mencapai 250 poin.

Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas rupiah. Pelaku pasar disarankan memantau perkembangan kebijakan moneter global dan domestik sebelum melakukan transaksi valas dalam jumlah besar.

Reporter: Fajar
Sumber: money.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top