LHOKSUKON — Dampak banjir bandang di Aceh Utara pada penghujung 2025 ternyata tidak hanya merusak lahan pertanian. Tim peneliti Universitas Teuku Umar (UTU) menemukan bahwa kerentanan rumah tangga petani bersifat multidimensional, mencakup sektor ekonomi, hubungan sosial, fungsi kelembagaan lokal, hingga kesehatan.
Untuk menjawab persoalan itu, Irham Maulana, S.P., M.Si., dosen Program Studi Agribisnis UTU, bersama timnya merancang riset berjudul “Model Mitigasi Kerentanan Multidimensional Petani Padi Pasca Banjir di Aceh Utara: Integrasi Fuzzy-set Qualitative Comparative Analysis (FsQCA) dan Pemetaan Spasial”. Riset ini mendapat pendanaan penuh melalui skema Penelitian Dosen Pemula, Hibah BIMA 2026 dari Kemdiktisaintek.
Kerugian Miliaran Rupiah dan Kerentanan Sistemik
Data Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara mencatat sekitar 12.537 hektare tanaman padi mengalami puso total akibat rendaman banjir. Kerugian finansial ditaksir mencapai miliaran rupiah. Tiga kecamatan terdampak paling parah adalah Matangkuli, Pirak Timur, dan Lhoksukon, yang merupakan sentra produksi padi, akibat luapan Sungai Krueng Keureuto dan Krueng Pirak.
“Dampak buruk yang dialami masyarakat petani tidak sekadar menyentuh kerusakan fisik lahan pertanian, melainkan bersifat multidimensional,” ujar Irham Maulana, Ketua Tim Peneliti.
Mengapa Metode Konvensional Dianggap Gagal?
Irham menilai formulasi kajian risiko dan kerentanan bencana di sektor pertanian selama ini masih parsial. Pendekatan regresi linier tradisional dinilai kurang memadai untuk mengurai kerumitan variasi penyebab kerentanan di lapangan.
Untuk mengatasi batasan itu, tim mengintegrasikan dua pendekatan mutakhir. Pada tahap pertama, derajat kerentanan rumah tangga petani dikalkulasi menggunakan Livelihood Vulnerability Index (LVI) yang dipadukan dengan Geographic Information System (GIS) berbasis QGIS. Hasilnya berupa peta sebaran spasial kerentanan wilayah yang akurat.
FsQCA: Membedah 'Resep' Kombinasi Faktor Kerentanan
Tahap kedua menjadi pembeda riset ini. Tim menerapkan metode Fuzzy-set Qualitative Comparative Analysis (FsQCA), pendekatan konfiguratif yang masih jarang digunakan dalam studi kebencanaan pertanian di Indonesia. Metode ini mengidentifikasi kombinasi faktor—mulai dari penguasaan aset produksi, diversifikasi pendapatan, akses informasi, hingga fluktuasi lingkungan makro—yang secara simultan membentuk jalur kausalitas kerentanan.
“Kerentanan petani pasca-banjir jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi beberapa kondisi yang saling berkaitan. Kami ingin membedah ‘resep’ kombinasi faktor tersebut,” kata Irham. Ia menambahkan bahwa hasil riset nantinya akan dipadukan dengan peta spasial agar rekomendasi mitigasi sesuai karakteristik tiap wilayah, bukan generalisasi.
Kolaborasi dengan Pemda dan BPBD Aceh Utara
Riset lapangan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) internal tim, lalu koordinasi dengan pemangku kebijakan daerah. Tim peneliti telah diterima jajaran eksekutif Pemkab Aceh Utara dan melakukan audiensi mendalam dengan BPBD Aceh Utara. Pertemuan itu bertujuan menyelaraskan data kebencanaan lintas sektoral dan peta jalan program kesiapsiagaan yang berjalan, sehingga hasil riset bisa langsung diadaptasi menjadi basis regulasi proteksi pertanian lokal.
Setelah koordinasi dengan otoritas daerah, tim melakukan penetrasi ke lapangan untuk menemui rumah tangga petani padi di kecamatan terdampak. Survei primer dan wawancara terstruktur dilakukan untuk mengumpulkan data yang akan diolah menjadi indeks kerentanan. Tim riset juga melibatkan Tsamarah Nur Rahmah, S.Hut., M.Si. (Agroteknologi UTU), Zakki Muhtaram, S.P., M.Si. (Agribisnis UTU), Ir. Muhammad Afzal, S.TP (Kantor Pertanahan Aceh Barat Daya), serta Keke Putri Anggraini Lestari, S.P., mahasiswa Magister Ekonomi Pertanian UGM.