ACEH — Laporan Carscoops yang dikutip Suara.com mengungkapkan skala masalah ini. Selama masa lockdown 2020 hingga 2021, sekitar 8 juta unit kendaraan gagal diproduksi. Kekosongan ini menciptakan celah besar pada rantai pasokan, yang kemudian memicu kelangkaan unit mobil bekas di pasar.
Kenaikan harga mobil bekas kian parah karena kebijakan pabrikan. Produsen lebih memprioritaskan model dengan margin keuntungan besar, seperti SUV dan pikap premium. Akibatnya, harga rata-rata mobil baru melonjak drastis dan secara otomatis menyeret naik harga mobil bekas di pasaran.
Meskipun penjualan mobil baru mulai pulih ke angka 16,2 juta unit pada 2025, angka ini masih di bawah pencapaian tahun 2016 yang mencapai 17,55 juta unit. Artinya, pasokan belum sepenuhnya pulih ke level normal.
Senior Vice President JD Power, Tyson Jominy, memberikan gambaran nyata soal situasi ini. "Harga kendaraan naik sekitar sepertiga, tetapi gaji dan pendapatan tidak mengalami peningkatan yang sebanding," ungkapnya.
Kesenjangan ekonomi menjadi faktor krusial. Saat ini, pembeli mobil baru di AS rata-rata memiliki pendapatan di atas Rp2,4 miliar per tahun. Padahal, rata-rata pendapatan rumah tangga di sana hanya berkisar Rp1,28 miliar per tahun. Minimnya insentif pembelian, yang hanya berada di kisaran 6,5 hingga 7 persen, semakin menekan konsumen.
Kondisi ini membuat mobil baru hanya bisa dinikmati kalangan tertentu. Dengan daya beli yang tertinggal dan stok yang belum pulih total, harapan harga mobil bekas turun menjadi sangat sulit tercapai. Efek domino pandemi masih terasa nyata, mencekik kantong konsumen yang ingin memiliki kendaraan roda empat.