“Paling tidak, ketika orang melintas mereka tahu bahwa sudah sampai di Aceh Jaya. Sampai hari ini masih banyak masyarakat luar yang belum mengetahui letak Kabupaten Aceh Jaya. Saya hanya meminta dua kilometer saja sebagai penanda dan wajah daerah,” ujar Safwandi.
Di balik ambisi pembangunan itu, Safwandi mengakui kebijakan efisiensi anggaran nasional turut berdampak pada daerah. Ia meminta pemerintah pusat tetap mengalokasikan dana yang proporsional untuk kebutuhan pembangunan di Aceh Jaya. Tanpa dukungan fiskal yang memadai, proyek infrastruktur semacam ini sulit terealisasi.
Meski fokus pada infrastruktur, Safwandi mengingatkan agar kemajuan fisik tidak membuat masyarakat abai terhadap pembangunan karakter generasi muda. Menurutnya, pembangunan dayah dan pesantren harus tetap menjadi prioritas utama. Lembaga pendidikan keagamaan ini dinilai punya peran besar dalam membentuk akhlak anak-anak Aceh yang kini menghadapi tantangan lebih besar, terutama saat merantau atau berkuliah di luar daerah.
“Anak-anak Aceh harus dibekali pendidikan keagamaan yang memadai sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi,” tegas Safwandi. Ia menilai pengawasan orang tua terhadap anak yang belajar di luar daerah semakin longgar, sehingga bekal spiritual menjadi tameng utama.
Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya kini dihadapkan pada dua agenda besar sekaligus: membenahi infrastruktur jalan dan memperkuat fondasi moral generasi penerus. Safwandi berharap sinergi antara pembangunan fisik dan non-fisik bisa berjalan beriringan, tanpa mengorbankan salah satu.