Wakil Wali Kota Sabang Suradji Junus menegaskan, sebagai daerah kepulauan, Sabang memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi cuaca dan iklim. Fluktuasi cuaca ekstrem tidak hanya mengancam hasil panen, tetapi juga rantai distribusi kebutuhan pokok yang selama ini sangat bergantung pada jadwal pelayaran dan kondisi laut.
“Ketahanan pangan tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus dibangun bersama. Kemampuan membaca, memahami, dan menyiasati informasi iklim menjadi kunci dalam memperkuat pertanian dan ketahanan pangan daerah,” ujar Suradji Junus dalam sambutannya.
Anggota Komisi V DPR RI H. Irmawan yang hadir membuka kegiatan menyebut, SLI bukan sekadar seremoni. Ia menekankan bahwa keberhasilan program diukur dari sejauh mana ilmu yang didapat peserta bisa ditularkan ke masyarakat di sekitarnya.
“Sekolah lapang iklim ini nantinya akan mengedukasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat, bagaimana kemampuan kita untuk beradaptasi dan membaca tanda-tanda perubahan iklim. Ilmu yang diberikan kepada peserta tidak berhenti di sini, tetapi bisa disebarkan kembali kepada masyarakat di sekitarnya,” kata Irmawan.
Kegiatan mengusung tema “Meuseuraya Iklim Nanggroe Berseri: Sinergi Lintas Sektoral Wujudkan Kedaulatan Air, Ketahanan Pangan dan Kemandirian Energi”. Peserta tidak hanya mendapatkan teori membaca data cuaca dari BMKG, tetapi juga diajak berdiskusi dan bertukar pengalaman menghadapi persoalan nyata di lapangan, seperti pola tanam yang tepat dan antisipasi gagal panen akibat cuaca ekstrem.
SLI ini dihadiri Anggota DPRA Munawar, jajaran BMKG Aceh, unsur pemerintah daerah, serta puluhan peserta dari kelompok tani dan nelayan di Kota Sabang.
Wakil Wali Kota menambahkan, program ini menjadi bukti bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi antara BMKG sebagai penyedia data iklim, pemda sebagai pengambil kebijakan, dan petani sebagai pelaku utama pertanian harus terus diperkuat. Dengan pemahaman iklim yang lebih baik, risiko gagal panen akibat perubahan cuaca mendadak bisa ditekan secara signifikan.
Melalui SLI ini, diharapkan masyarakat Sabang semakin siap menjadikan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan, terutama saat menentukan jadwal tanam, panen, hingga distribusi hasil bumi ke luar pulau. [*]