ACEH — Kondisi pahit dan tekanan tinggi mewarnai persiapan RD Kongo vs Uzbekistan. Kedua tim belum merasakan kemenangan di dua laga awal Grup K. RD Kongo setidaknya masih mengantongi satu poin, sementara Uzbekistan belum mengoleksi angka sama sekali.
Tim besutan Sebastien Desabre menelan kekalahan 0-1 dari Kolombia pada laga kedua. Gol Daniel Munoz di menit ke-76 menjadi pembeda, meski RD Kongo sempat menunjukkan peningkatan setelah kebobolan.
Strategi bertahan dengan lima pemain di lini belakang kembali diandalkan. Formasi itu sempat berjalan efektif, namun tim berjuluk Leopards itu kesulitan membangun serangan saat menguasai bola.
Empat laga terakhir di semua kompetisi tanpa kemenangan membuat tekanan semakin besar. Kemenangan menjadi harga mati untuk menjaga asa finis di posisi ketiga grup.
Fabio Cannavaro membawa Uzbekistan ke Amerika Serikat dengan modal buruk. Dua kekalahan telak — 1-3 dari Kolombia dan 0-5 dari Portugal — membuat selisih gol mereka minus tujuh, salah satu yang terburuk di turnamen.
Catatan statistik menunjukkan produktivitas rendah. Hanya dua gol dalam 360 menit pertandingan terakhir. Uzbekistan juga belum merasakan kemenangan dalam waktu normal sejak mengalahkan Gabon 3-1 pada Maret lalu.
Empat kekalahan beruntun di laga uji coba dan fase grup menjadi beban berat menjelang laga penutup.
RD Kongo diunggulkan secara statistik. Namun, tekanan wajib menang bisa menjadi bumerang. Uzbekistan yang sudah tidak punya beban justru berpotensi tampil lepas dan merepotkan.
Laga ini menjadi pertaruhan terakhir bagi kedua tim. Hasil maksimal tidak hanya menentukan posisi di Grup K, tetapi juga membuka peluang tipis menuju babak 32 besar melalui jalur peringkat ketiga terbaik.