Banda Aceh, kota yang tenang setelah tsunami 2004, menyimpan kekayaan rasa yang jarang terekspos media nasional. Bukan cuma kopi dan ikan tongkol, warung-warung kecil di seputaran Masjid Raya Baiturrahman hingga Lampulo punya cerita rasa yang bertahan puluhan tahun. Saya beberapa kali singgah ke sini, dan tiap sudut kota selalu punya kejutan kuliner dengan harga yang ramah di kantong.
Artikel ini bukan sekadar daftar. Saya ingin membagikan pengalaman langsung dan tips praktis yang bisa kamu pakai saat menjelajah kuliner Aceh. Tidak ada harga atau jam buka pasti yang saya sebut—karena data itu cepat berubah dan menyesatkan. Yang ada adalah rekomendasi tempat yang sudah teruji oleh waktu dan lidah warga lokal.
Mie instant di Aceh bukan sekadar mi rebus biasa. Di seputaran Pasar Aceh, tepatnya di Jalan Twk. M. Daud Beureueh, ada beberapa gerobak yang menyajikan mie instant dengan topping daging cincang, telur, dan taburan bawang goreng yang melimpah. Rasanya gurih, sedikit pedas, dan kuahnya kental.
Tips praktis: datang sebelum jam 10 pagi kalau ingin menikmati porsi paling segar. Setelah itu, beberapa penjual mulai kehabisan stok daging. Tempat duduk terbatas, jadi siap-siap bergantian dengan pembeli lain.
Kuah beulangong adalah gulai khas Aceh berbahan daging sapi atau kambing yang dimasak dengan santan dan rempah pekat. Di kawasan Lampulo, dekat Pelabuhan Perikanan, ada beberapa warung yang menyajikan hidangan ini sejak pagi. Aromanya semerbak, bercampur bau laut dan asap dapur kayu bakar.
Porsi yang disajikan cukup besar untuk satu orang. Kalau kamu perantau yang baru pertama kali coba, minta level pedas yang ringan dulu—rempahnya sudah cukup kuat di lidah orang Jawa atau Sumatera lainnya.
Sate Matang berbeda dari sate pada umumnya. Dagingnya lebih tebal, bumbu kacangnya lebih cair, dan disajikan dengan ketupat serta irisan cabai hijau. Di sekitar Simpang Lima, Banda Aceh, ada beberapa lapak yang buka menjelang sore. Suasana ramai, asap bakaran memenuhi udara, dan pembeli antre sabar.
Pilih sate dengan daging yang masih sedikit merah di dalam—itu tanda kematangan sempurna ala Aceh. Jangan lupa tambahkan kecap manis dan perasan jeruk nipis untuk menyeimbangkan rasa gurih.
Warung Kopi Solong di Jalan Tgk. Daud Beureueh bukan sekadar tempat nongkrong. Kopi sanger—kopi susu khas Aceh—di sini punya rasa yang pekat, creamy, dan tidak terlalu manis. Saya pernah duduk di sana selama dua jam, hanya menikmati kopi dan melihat lalu lalang warga kota.
Kalau kamu datang sendirian, duduklah di meja panjang. Biasanya pengunjung lain akan mengajak ngobrol santai. Ini cara terbaik untuk mendengar cerita lokal sambil menyeruput kopi yang harganya masih sangat terjangkau.
Ulee Lheue, kawasan pesisir barat Banda Aceh, terkenal dengan ikan tongkol bakarnya. Warung-warung di sepanjang jalan menuju pelabuhan menyajikan ikan segar yang dibakar di atas bara api. Dagingnya padat, sedikit berasap, dan disertai sambal terasi yang pedas menggigit.
Pilih ikan yang masih terlihat segar—matanya jernih, insangnya merah. Kalau ragu, tanya penjual langsung; mereka biasanya jujur soal kesegaran stok hari itu.
Roti canai di Aceh punya tekstur yang lebih tipis dan renyah dibandingkan versi Malaysia atau India. Di kawasan Punge Blang Cut, ada beberapa kedai yang menyajikan roti canai dengan kuah kari kambing. Satu porsi cukup untuk sarapan ringan.
Minta roti canai dimasak agak lama kalau suka tekstur renyah. Kalau suka yang lembut, bilang saja "setengah matang" ke penjual. Mereka paham maksudmu.
Ayam tangkap adalah ayam goreng khas Aceh yang dimasak dengan daun kari, cabai hijau, dan rempah lainnya. Di Keudah, dekat pantai, ada warung yang menyajikan ayam tangkap dengan porsi besar. Dagingnya empuk, bumbu meresap, dan daun karinya bisa dimakan langsung sebagai lalapan.
Harga bervariasi tergantung ukuran porsi. Cek langsung ke tempatnya sebelum memesan. Biasanya mereka menyediakan paket untuk 2-3 orang dengan harga lebih hemat.
Peunayong adalah pusat kuliner malam di Banda Aceh. Mie Aceh basah—mie kuning tebal yang ditumis dengan bumbu kari dan seafood—adalah primadona di sini. Porsinya besar, pedasnya bisa disesuaikan, dan toppingnya melimpah: udang, cumi, dan daging sapi.
Datanglah setelah pukul 19.00 WIB, karena beberapa gerobak baru buka saat malam. Kalau tidak suka pedas, minta level 0 atau 1—level 3 sudah bikin keringatan.
Pasar Atjeh di pusat kota bukan cuma tempat belanja sayur dan ikan. Di lantai dasar, ada deretan penjual kue tradisional seperti timphan, bhoi, dan adee. Semua berbahan dasar tepung beras, santan, dan gula aren. Rasanya legit, teksturnya kenyal.
Kue-kue ini cepat habis. Datang pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06.00 WIB, untuk mendapatkan pilihan terbanyak. Harga per bungkus sangat murah, cocok untuk oleh-oleh.
Lampriet, kawasan padat penduduk di timur Banda Aceh, punya penjual es campur legendaris. Es campur di sini berbeda—sirupnya bukan rasa manis biasa, melainkan campuran gula aren dan sedikit garam. Ditambah cincau, nangka, dan alpukat, rasanya segar dan unik.
Minta es campur tanpa susu kental manis kalau ingin rasa original. Penjual biasanya menyediakan pilihan topping tambahan seperti kolang-kaling atau tape.
1. Apakah kuliner Aceh pedas?
Ya, sebagian besar masakan Aceh menggunakan cabai. Tapi kamu bisa minta level pedas yang lebih rendah di hampir semua warung. Jangan ragu untuk bilang "sedikit pedas" atau "tidak pedas".
2. Berapa rata-rata harga makanan di Aceh?
Harga bervariasi tergantung tempat dan jenis makanan. Untuk porsi standar, kamu bisa dapatkan mulai dari Rp10.000 hingga Rp30.000. Cek langsung ke tempatnya untuk informasi harga terkini.
3. Kapan waktu terbaik untuk menjelajah kuliner Aceh?
Pagi hari untuk sarapan seperti roti canai atau mie instant. Sore hingga malam untuk sate matang, mie Aceh basah, dan es campur. Hindari jam makan siang di warung populer karena antrean panjang.
4. Apakah ada makanan halal di Aceh?
Semua makanan di Aceh halal. Aceh menerapkan syariat Islam, jadi kamu tidak perlu khawatir soal kehalalan bahan makanan di warung manapun.
5. Bagaimana cara menuju ke tempat-tempat ini?
Gunakan ojek online atau becak motor untuk jarak dekat di dalam kota. Untuk lokasi seperti Ulee Lheue atau Lampulo, kamu bisa naik angkot atau taksi. Pastikan sudah unduh peta offline karena sinyal kadang tidak stabil.
Kuliner Aceh bukan cuma soal rasa, tapi juga cerita dan kehangatan warganya. Dari pagi hingga malam, warung-warung ini menjadi saksi bisu perputaran waktu di kota yang terus bangkit. Kalau kamu punya rekomendasi tempat lain, tulis di kolom komentar—siapa tahu jadi petualangan kuliner berikutnya.