IHSG Anjlok 10,76% ke 5.233 Usai MSCI Ancam Keluarkan Indonesia dari Emerging Market

Penulis: Ragil  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:03:01 WIB
IHSG ditutup melemah 10,76 persen ke level 5.233 pada sesi I Jumat (16/10).

ACEH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 630,78 poin atau 10,76 persen ke level 5.233 pada penutupan sesi I Jumat (16/10), dipicu pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi perubahan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut pengumuman MSCI sebagai pemicu utama koreksi tajam tersebut, meski menegaskan fundamental emiten dan ekonomi domestik masih stabil.

Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi tidak menampik pengumuman MSCI menjadi penyebab utama koreksi IHSG. "Terus terang kalau bicara IHSG itu banyak faktor, ya. Tapi kalau bicara hari ini, ya mungkin market juga bisa menyimpulkan bahwa sejak pengumuman itu kemudian terjadi penurunan market yang cukup tajam. Bisa disimpulkan memang trigger-nya adalah pengumuman dari MSCI ini," ujar Iding kepada awak media di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Jumat (16/10).

Sebagian Besar Saham Melemah, Nilai Transaksi Capai Rp17,33 Triliun

Data RTI Business mencatat 771 saham melemah, 14 saham menguat, dan tiga saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 38,70 miliar saham dengan nilai transaksi Rp17,33 triliun dan frekuensi 1,35 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat Rp9.245,87 triliun.

Di tengah tekanan pasar, investor asing justru membukukan beli bersih Rp567,96 miliar berdasarkan data per 15 Oktober 2026. Beli bersih di pasar reguler mencapai Rp520,03 miliar, sedangkan di pasar negosiasi dan tunai Rp47,93 miliar.

BEI Sebut Fundamental Emiten Masih Kuat

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin menambahkan secara agregat kinerja emiten di bursa masih mencatatkan kinerja positif, baik dari sisi pendapatan, laba, maupun aset. "Secara fundamental, secara kondisi emiten-emiten yang ada di Bursa Efek Indonesia kita masih cukup kuat dan masih cukup growth. Tinggal bicara masalah persepsi dan pengumuman tadi dari MSCI," jelas Saidu.

Iding mengingatkan indikator ekonomi makro dalam negeri berada dalam kondisi stabil dan mendukung. "Kalau dalam negeri mungkin kan multifaktor. Dalam negeri itu kan sejauh ini juga ukuran-ukuran parameter-parameter ekonomi juga sejauh ini sudah dikomunikasikan oleh pemerintah bahwa ekonomi kita cukup stabil dan tumbuh dengan baik," lanjutnya.

Status Standalone Baru Sebatas Usulan Konsultasi

Saidu menegaskan status standalone market tersebut baru sebatas usulan konsultasi yang ruang diskusinya masih dibuka hingga April 2027. Artinya, keputusan final MSCI belum diambil dan masih ada ruang bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk merespons.

Karena itu, BEI mengimbau investor tetap tenang dan tidak mengambil keputusan secara emosional. "View-nya dari investor itu harusnya lebih pada long term horizon. Lihat fundamentalnya dari perusahaan. Bertindak secara rasional, jangan ikut-ikutan, jangan jual atau beli karena pergerakan pasar, tapi jual atau beli benar-benar karena fundamental dari market, fundamental dari perusahaannya," tutur Iding.

Apa Artinya bagi Investor di Tengah Koreksi Tajam

Koreksi 10,76 persen dalam satu sesi menempatkan IHSG pada level terendah dalam periode yang belum pernah terjadi belakangan ini. Bagi investor ritel, keputusan BEI menekankan pentingnya melihat fundamental emiten menjadi sinyal untuk tidak panik menjual aset hanya karena sentimen jangka pendek.

Bagi pelaku pasar, status standalone yang masih dalam tahap konsultasi hingga April 2027 memberi waktu bagi regulator untuk berkomunikasi dengan MSCI. Namun, ketidakpastian ini berpotensi menahan aliran dana asing baru ke pasar saham Indonesia selama proses berlangsung.

Reporter: Ragil
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top