PADANGPANJANG — Panggung Prosenium Hoerijah Adam menjadi ruang bagi ISBI Aceh mempertunjukkan karya bertajuk "Seumaloe: Akal dan Tubuh" pada Rabu malam (21/10/26). Pertunjukan itu masuk rangkaian Pertunjukan Karya Unggulan Festival Kesenian Indonesia (FKI) ke-13. Karya tersebut dibangun dari penafsiran ulang atas tradisi lisan dan pola musik khas Aceh.
Dosen ISBI Aceh yang juga Koordinator Musisi Muhammad Hamzah menjelaskan, seumaloe adalah istilah masyarakat Aceh yang merujuk pada pamali, larangan, keharusan, sekaligus marwah. Pemilihan istilah itu dinilai dapat merepresentasikan akal dan tubuh dalam menjaga ekosistem di bumi.
"Seumaloe itu kami pilih karena dapat merepresentasikan akal dan tubuh dalam menjaga ekosistem di bumi ini," ujar Muhammad Hamzah.
Muhammad Hamzah menyebut penggarapan karya berlangsung selama tiga bulan. Proses itu mencakup perumusan konsep, latihan, hingga pemilihan instrumen yang dapat merepresentasikan gagasan berkaitan dengan folklore dan ekologi saat ini.
"Jadi dalam proses tentu senang dan rasanya ingin terus berkarya," katanya.
Dari sisi komposisi, Komposer yang juga Dosen ISBI Aceh Riski Mona Dwi Putra mengatakan bahwa bagian musik dari finalisasi karya melakukan penafsiran ulang atas sejumlah item khas Aceh. Item yang dimaksud adalah Pola Guel Ritme Gayo, pola ritme Rapai Pasee, vokal Pesisir Timur, dan vokal Gayo.
Ritme-ritme tersebut kemudian dilanjutkan dengan permainan-permainan melodis yang ditransformasikan dari ritme yang ada di Aceh. Semua unsur itu dikaitkan dalam karya yang terdiri dari beberapa bagian dan alur, mulai dari yang sepenuhnya musikal, musikal pengiring tari, hingga musikal pengiring monolog.
Riski menyebutkan, proses penafsiran konsep karya juga merujuk pada wilayah Gayo yang dekat dengan hutan, ladang kopi, sungai, dan danau. Dari sisi pesisir, karya ini mengambil motif vokal Meucae, yaitu syair-syair pembuka untuk menyampaikan pesan.
"Jadi karya ini merupakan kompleksitas dari musikal-musikal yang ada di Aceh," ujarnya.
Tantangan tersendiri dalam penggarapan karya terletak pada bagian transisi dari bagian A ke bagian B lalu ke bagian C. Transisi itu dibuat seolah tidak ada perbatasan sehingga menjadi kesatuan pertunjukan yang utuh. Pesan yang disampaikan berkisar tentang kebaruan, dengan motif-motif musik bertemakan art ekologi dan folklore.
Maestro ISBI Tanah Papua Darlane Litaay menilai warna tradisi atau warna lokal yang ditampilkan dalam karya "Seumaloe: Akal dan Tubuh" sangat kental dari ragam musik dan ragam gerak. Pertunjukan yang secara persentase lebih besar bermusik itu dinilai mampu menunjukkan warna baru di luar tradisi.
"Semangat menjaga lingkungan terpancar dari visual dan juga lantunan tradisi lisan. Terasa sekali teman-teman di Aceh juga peduli terhadap ekologi dan folklore," ujar Darlane.