ACEH — Range Energy merilis analisis yang mengklaim trailer listriknya bisa menghemat biaya bahan bakar armada truk hampir sebesar Tesla Semi. Perusahaan rintisan asal California itu menilai solusi elektrifikasi trailer lebih mudah diterapkan karena tidak menuntut perubahan operasional besar di depot.
Dokumen white paper Range Energy membandingkan penghematan yang bisa diraih armada truk dari dua pendekatan: trailer listrik buatan sendiri melawan traktor semi listrik penuh Tesla Semi. Analisis berfokus pada unit trailer berpendingin atau reefer, produk pertama yang digarap perusahaan.
Range Energy didirikan dan diisi oleh mantan karyawan Tesla serta sejumlah nama dari industri kendaraan listrik. Perusahaan ini membangun trailer dengan baterai dan motor listrik sendiri, sehingga traktor diesel tidak perlu bekerja sekeras biasanya karena trailer mampu menarik bobotnya sendiri.
Pendekatan Range Energy berbeda dari opsi elektrifikasi penuh yang tengah diadopsi banyak armada. Alih-alih mengganti traktor dengan unit listrik, perusahaan mempertahankan traktor yang ada dan mengalihkan elektrifikasi ke trailer.
Pada pengujian awal, Range Energy mencatat penurunan konsumsi bahan bakar hingga 36 persen dalam skenario uji. Uji coba di sebuah peternakan telur di California bahkan meningkatkan efisiensi bahan bakar armada diesel peternakan itu sebesar 50 sampai 70 persen.
Untuk trailer berpendingin, baterai tidak terlalu memakan kapasitas muatan karena reefer umumnya terisi penuh berdasarkan volume, bukan berat. Baterai juga bisa menyuplai daya ke sistem pendingin, sehingga generator diesel di trailer tidak lagi diperlukan.
Hasil analisis menunjukkan armada bisa menghemat biaya dengan eTrailer, dan secara teori lebih banyak lagi dengan Tesla Semi. Namun selisih angkanya relatif tipis pada skenario paling umum, sementara rentang penghematan Tesla Semi sangat lebar tergantung implementasi yang dipilih.
Jika armada hanya mengandalkan charger publik dan bukan charger di depot sendiri, biaya energi untuk Tesla Semi menjadi lebih mahal. Investasi charger di depot memang terlihat mahal di awal, tetapi perhitungan jangka panjangnya lebih menguntungkan.
Penghematan terbesar muncul bila dua unit Semi berbagi satu charger, meski skema itu menuntut pengaturan waktu ketat dan pengoperasian malam hari. Range Energy juga menyoroti waktu pengerjaan proyek: eTrailer bisa langsung masuk ke armada dengan perubahan operasional minim, sedangkan traktor listrik menuntut proyek penyiapan depot dan charger yang lebih besar.
Kedua solusi tidak harus saling menggantikan. Trailer listrik tetap bisa dipakai bersama traktor listrik, dengan cara kerja sama: motor di trailer meringankan beban traktor. Kombinasi ini memperpanjang jangkauan untuk pengiriman jarak jauh bermuatan ringan yang tidak cukup ditempuh Tesla Semi dengan kapasitas baterainya.
Keunggulan menjalankan reefer saat trailer terlepas dari traktor atau sumber listrik darat juga tetap ada. Range Energy menempatkan eTrailer sebagai solusi yang bisa langsung dipakai armada tanpa menunggu infrastruktur pengisian daya skala besar siap.
White paper Range Energy memiliki sejumlah batasan yang perlu dicatat. Analisis harus memperkirakan biaya diesel di masa depan, memakai angka di bawah harga saat ini meski masih tergolong tinggi secara historis, dan tidak memasukkan biaya pembiayaan.
Selain itu, belum ada data dunia nyata untuk Tesla Semi, dan analisis tidak mencakup opsi traktor maupun trailer listrik dari perusahaan lain. Biaya pengisian daya per lokasi juga tidak bisa dianalisis satu per satu karena setiap site memiliki tarif berbeda.
Range Energy memposisikan eTrailer sebagai jalan pintas menuju elektrifikasi truk yang bisa dieksekusi lebih cepat, sementara elektrifikasi penuh menawarkan penghematan jangka panjang lebih besar dengan konsekuensi investasi awal yang lebih berat.