ACEH — Lembaga mitra terbatas (limited partner/LP) yang memasok modal ke firma ventura menyebut konsentrasi investasi ke OpenAI dan Anthropic sebagai taruhan besar yang masih menguntungkan. Mereka menilai pendanaan ventura kini kembali dalam siklus 12-18 bulan, jauh lebih cepat dari normal 24-36 bulan. Perubahan ini memicu kekhawatiran soal disiplin valuasi di pasar startup global.
LGT Capital Partners dan TrueBridge termasuk pengelola dana yang menyoroti pergeseran lanskap modal ventura global. Keduanya menilai konsentrasi portofolio ke segelintir nama besar bukan sinyal bahaya langsung, tetapi mempercepat ritme pendanaan di luar kebiasaan.
Dalam model bisnis venture yang mengikuti hukum power law, sebagian besar imbal hasil datang dari sedikit perusahaan pemenang. Amit Bhatti dari TrueBridge menyebut konsentrasi ke nama seperti Databricks, SpaceX, Stripe, hingga OpenAI dan Anthropic sebagai ciri khas generasi dana saat ini.
“Venture has always been a power law business, so I actually view the concentration as a good thing,” ujar Bhatti. Ia menambahkan bahwa dana berusia 10 tahun ke atas mulai mengerucut ke beberapa nama besar, dan pola serupa diperkirakan terjadi pada OpenAI serta Anthropic.
Yang membedakan situasi sekarang adalah kecepatannya. Valuasi dua perusahaan AI itu melonjak dalam waktu singkat, sehingga hampir semua firma ventura menaruh modal di perusahaan yang sama.
Beezer Clarkson dari LGT Capital Partners mencatat sebagian dana kembali menghimpun modal baru dalam siklus satu tahun. Padahal, normalnya dua hingga dua setengah tahun.
“We’re seeing funds come back on one-year pacing, which is fast. The norm was probably two to two and a half years,” kata Clarkson. Ia menyebut dana yang mengejar posisi besar dengan cek besar cenderung lebih cepat menghabiskan modal.
Bhatti menambahkan, banyak fund menaikkan ukuran dana di tengah siklus, hal yang tidak lazim. Pemicunya, ukuran putaran pendanaan membengkak, termasuk seed round yang hampir dua kali lipat.
Kedua pengelola dana menyebut kondisi ini sebagai “yellow light”, bukan alarm merah. Kekhawatiran utama bukan pada perusahaan yang dibiayai, melainkan pada disiplin pengelolaan modal.
“It’s definitely a yellow light. It gives us a little bit of heartburn,” ujar Bhatti. Ia membandingkan dengan periode percepatan investasi sebelumnya yang banyak menaruh uang di proyek kripto tanpa pendapatan.
Kini, menurut Bhatti, banyak perusahaan bisa menembus pendapatan 100 juta dolar AS dalam waktu singkat, sesuatu yang dulu nyaris tidak terdengar. Perbedaan kualitas aset inilah yang membuat LP belum panik.
Clarkson menilai diversifikasi tetap terlihat di segmen early stage. Dana tahap awal menulis cek lebih kecil dan tidak masuk ke putaran late stage besar, sehingga sebaran portofolio lebih lebar.
Namun, agregasi modal ke perusahaan yang sama tetap terjadi saat dana-dana tersebut tumbuh. Bagi institusi yang menjadi LP di banyak firma, eksposur ke OpenAI dan Anthropic bisa berlipat tanpa disadari.
Pasar modal ventura Indonesia belum sepenuhnya mengikuti pola ini karena ukuran dana dan tahap startup lokal masih jauh lebih kecil. Meski demikian, sinyal dari LP global kerap memengaruhi alokasi dana ke kawasan Asia Tenggara.
Bagi pelaku startup dan investor di Indonesia, pergeseran pace pendanaan ini layak dicermati. Firma ventura yang mengejar eksposur AI global berpotensi memperketat seleksi di pasar emerging, termasuk Jakarta dan Singapura.