Dalam sebuah sesi Q&A terbaru yang dilansir GamesRadar+, Wilson mengaku dulu percaya bahwa live service adalah masa depan industri game tanpa cela. "10 tahun lalu, saya merasa live service sepenuhnya menguntungkan, dalam semua kasus," ujarnya.
Ia memaparkan kelebihan yang dulu ia yakini: game bisa gratis dimainkan, model monetisasi yang fleksibel memungkinkan pemain tak perlu mengeluarkan banyak uang, dan update konten yang terus-menerus membuat game selalu terasa segar. Di atas kertas, semuanya tampak saling menguntungkan.
Ketika Tekanan Komunitas Menjadi Bumerang
Namun setelah 10 tahun berkutat dengan model live service, Wilson menemukan sisi gelap yang tak terhindarkan. "Ada juga beberapa kekurangan terkait game yang terus-menerus harus berubah untuk mengikuti perkembangan, dan hubungan yang dimiliki umpan balik komunitas terhadap cara game berubah," jelasnya.
Wilson memberikan contoh konkret: situasi di mana pengembang terpaksa membuat perubahan tertentu meski tidak yakin itu keputusan terbaik. "Karena jika tidak, rilis Anda akan diboikot, atau Anda akan kena review bombing," katanya. Sebaliknya, game yang sudah selesai dan utuh tidak mengalami tekanan semacam itu karena pemain tidak mengharapkan patch baru.
Baldur's Gate 3, Antitesis yang Membuka Mata
Menariknya, Wilson menyebut Baldur's Gate 3 sebagai contoh yang dulu akan ia remehkan. "Saya dulu hanya berpikir game live service adalah masa depan dan saya akan mencemooh sesuatu seperti Baldur's Gate 3," ujarnya.
Bukan berarti Wilson kini membenci model live service. Ia menegaskan tidak berargumen bahwa satu model lebih baik dari yang lain. Namun pengalamannya membuat ia sadar bahwa "ini adalah bidang yang jauh lebih bernuansa dari yang saya kira 10 tahun lalu, di mana saya hanya berpikir game live service adalah masa depan."
Wilson kini melihat ada begitu banyak cara berbeda untuk memonetisasi game, dan setiap cara memiliki kekurangannya masing-masing.
Catatan: Baldur's Gate 3 Juga Punya 'Live Service'-nya Sendiri
Perlu dicatat bahwa Baldur's Gate 3 bukannya tanpa sentuhan model yang mirip live service. Game besutan Larian Studios ini melewati masa early access yang panjang dengan masukan dari komunitas, serta delapan patch besar yang menambahkan fitur-fitur baru — setara dengan sekitar satu setengah tahun dukungan berkelanjutan.
Namun perbedaan utamanya jelas: Baldur's Gate 3 adalah game yang selesai, rampung, dan dipoles hingga mengkilap. Tidak ada tekanan untuk terus berubah atau takut diboikot jika pengembang berhenti merilis konten baru.
Pernyataan Wilson ini hadir di tengah kuburan massal game live service yang membanjiri industri saat ini. Banyak judul yang mati sebelum sempat berkembang, membuat banyak pengembang dan pemain mulai mempertanyakan apakah model ini benar-benar masa depan — atau hanya gelembung yang siap pecah.