LHOKSEUMAWE — Kepemimpinan baru di tubuh DPC PERMAHI Aceh langsung ditegaskan dengan komitmen penguatan kaderisasi. Zulfikar, yang resmi menjabat ketua dalam MAPERCA ke-II, menyatakan fokus utama organisasi adalah melahirkan kader hukum yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki nalar kritis dan integritas moral yang kuat.
Apa Target Utama Zulfikar di DPC PERMAHI Aceh?
Dalam sambutan perdananya, Zulfikar menekankan bahwa PERMAHI harus menjadi garda terdepan sebagai agen perubahan dalam mengawal supremasi hukum. Ia juga mendorong mahasiswa hukum agar lebih aktif menyuarakan isu-isu keadilan.
"Fokus utama kita adalah melahirkan kader hukum yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki nalar kritis, integritas moral yang kuat, dan keberanian berpikir progresif," ujar Zulfikar.
MAPERCA ke-II: Bukan Sekadar Seremonial
Kegiatan MAPERCA ke-II yang mengusung tema "Penguatan Kaderisasi Mahasiswa Hukum dalam Membentuk Kader PERMAHI yang Kritis, Berintegritas, dan Progresif sebagai Agen Perubahan dalam Mengawal Supremasi Hukum" menjadi ajang pembekalan strategis. Selain prosesi kaderisasi, acara ini menghadirkan materi seputar peran mahasiswa hukum, advokasi masyarakat, hingga fungsi kontrol sosial terhadap kebijakan publik.
Zulfikar menegaskan bahwa PERMAHI harus menjadi ruang pembelajaran, pengabdian, dan perjuangan bagi mahasiswa hukum. Ia mengingatkan agar organisasi tidak hanya aktif dalam kegiatan seremonial belaka.
Sinergi dengan Penegak Hukum dan Pemerintah
Di bawah kepemimpinan baru, DPC PERMAHI Aceh berkomitmen memperkuat sinergi dengan berbagai elemen penegak hukum, instansi pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil. Meski demikian, independensi organisasi sebagai wadah kader dan intelektual mahasiswa hukum tetap dijaga.
Dengan semangat baru ini, DPC PERMAHI Aceh diharapkan mampu melahirkan generasi mahasiswa hukum yang kritis, berintegritas, progresif, dan memiliki keberpihakan yang jelas terhadap tegaknya supremasi hukum, baik di Aceh maupun Indonesia.