ACEH — Infantino menyampaikan rencana tersebut dalam wawancara dengan media Swiss Bluewin yang dikutip The Athletic. Usulan ini akan dibahas secara resmi setelah Piala Dunia 2026 rampung. Sebelumnya, FIFA sudah menambah jumlah peserta dari 32 menjadi 48 negara untuk turnamen empat tahunan berikutnya.
"Rencana itu akan ditetapkan dan didiskusikan bersama komite terkait setelah Piala Dunia kali ini," ujar Infantino.
Dampak Langsung ke Kuota Asia
Logikanya sederhana: semakin banyak peserta, semakin besar kuota yang dialokasikan ke setiap konfederasi. Asia, yang kini mendapat delapan setengah tiket untuk format 48 tim, kemungkinan mendapat jatah lebih jika format 64 tim berlaku. Indonesia, yang tengah dalam masa pembangunan skuad, secara matematis memiliki panggung lebih luas untuk bersaing.
Tapi PSSI dan Timnas Garuda tak bisa bersantai. FIFA belum mengumumkan pembagian kuota resmi untuk format baru. Artinya, jalur kualifikasi tetap menjadi penentu utama. Timnas Indonesia harus melewati babak penyisihan zona Asia yang kompetitif, dihuni raksasa seperti Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Australia.
Alasan Infantino: Mimpi Negara Kecil
Infantino beralasan penambahan peserta bukan sekadar ekspansi komersial. Menurutnya, kualitas sepak bola global terus merata. Negara-negara yang selama ini sulit menembus Piala Dunia perlu diberi kesempatan agar bisa berkembang.
"Setiap negara semestinya berhak memiliki mimpi tampil di Piala Dunia. Kualitas tim di seluruh dunia terus meningkat. Jika Anda tidak memberi kesempatan kepada negara-negara kecil untuk berpartisipasi, mereka akan kesulitan berkembang," kata Infantino.
Indonesia Tak Diam Saja
Di tengah wacana ini, PSSI terus bergerak. Beberapa tahun terakhir, federasi melakukan pembenahan besar-besaran: program naturalisasi pemain keturunan, perbaikan kualitas kompetisi domestik, pembinaan usia muda, hingga penunjukan John Herdman sebagai pelatih kepala.
Targetnya jelas: tampil di Piala Dunia 2030. Wacana 64 tim memang menjadi angin segar, tapi kerja keras di lapangan tetap tak bisa ditawar. Peluang terbuka, tapi tiket harus dijemput. Bukan diantar.