SIGLI — Kabut putih tebal masih menggantung di lembah saat Marlina Usman membuka tenda kemahnya di Agrowisata Kilonam, Minggu (2/8/2026) pagi. Pukul 07.20 WIB, matahari belum sepenuhnya muncul dan udara dingin terasa tajam. Dari punggung bukit di kawasan Geumpang, Pidie, itu, ia berdiri seolah di atas hamparan awan yang menutupi pepohonan di bawahnya.
Perempuan yang akrab disapa Kak Ana itu datang bersama rombongan TP PKK Pidie pada malam harinya. Mereka sengaja berkemah untuk menunggu momen kabut pagi yang menjadi daya tarik utama destinasi ini.
“Tempat ini sangat indah. Tidak kalah dengan daerah lain,” kata Marlina di lokasi, Minggu (2/8/2026).
Lahan Perkebunan Kopi yang Bertransformasi Menjadi Destinasi Wisata
Kilonam, yang juga dikenal dengan sebutan Kilo Nam atau Kilo 6, berada di tepi jalan lintas Geumpang–Meulaboh. Lokasinya sekitar enam kilometer dari Pasar Geumpang, atau sekitar 100 kilometer dari pusat Kota Sigli.
Lahan ini bukan sejak awal dirancang sebagai tempat wisata. Pemiliknya, Safriati yang akrab disapa Titi, memulai semuanya dari usaha perkebunan. Lima tahun lalu ia menanam kopi dan durian di area tersebut. Pemandangan lembah yang terbuka dari ketinggian kemudian menginspirasinya untuk membuka lahan sebagai agrowisata sejak 2024.
“Tadinya kami berkebun, karena mendapat pemandangan begitu indah sehingga kami terinspirasi membuat tempat wisata. Kami mulai merintis agrowisata sejak 2024, sementara kegiatan berkebun sudah berjalan sekitar lima tahun,” jelas Titi.
Tanpa Tiket Masuk, Sewa Tenda Rp150 Ribu per Malam
Pengelola tidak memungut tiket masuk bagi pengunjung yang datang ke Kilonam. Mereka hanya perlu membayar makanan atau minuman yang dipesan. Untuk wisatawan yang ingin bermalam, tersedia tenda sewaan dengan tarif Rp150.000 per malam, cukup untuk tiga hingga empat orang.
Fasilitas di lokasi berkembang bertahap. Area kamping berada di punggung bukit, dan di bawahnya terdapat air terjun setinggi sekitar 30 meter. Ada pula kolam anak, kolam ikan, serta kafe yang berdiri di tengah kebun kopi, jeruk, dan durian.
Satu hal yang perlu diketahui calon pengunjung, tidak ada sinyal seluler di kawasan ini. Pengelola menyediakan Wi-Fi di sekitar area kafe untuk kebutuhan internet.
Dua Waktu Terbaik Menyaksikan Lanskap Kabut
Pagi dan sore menjadi waktu utama untuk menikmati keindahan alam di Kilonam. Pada pagi hari, kabut menutupi pepohonan sebelum perlahan menipis menjelang siang. Sementara saat sore tiba, awan kembali turun dan cahaya matahari meredup, mengubah lanskap menjadi lebih lembut.
Setelah kabut menghilang sekitar pukul 10.00 WIB, perbukitan hijau tampak jelas. Pada momen itu, Marlina sempat turun ke air terjun, lalu melanjutkan kunjungan ke area kolam renang anak-anak dan kebun durian hingga kopi yang dikelola pemilik lahan.
Kunjungan rombongan TP PKK Aceh pada akhir pekan itu menjadi penanda bahwa Kilonam mulai dilirik wisatawan. Keunggulan tempat ini justru pada lanskap alam yang dibiarkan bekerja sendiri: kabut datang dan pergi, memberi ruang bagi siapa saja untuk terpukau pada keindahan Aceh.