ACEH — Produser film dokumenter NAZA, James Wilson, angkat bicara soal tekanan pemerintah dan militer Israel terhadap dua sutradaranya, Rachel Szor dan Yuval Abraham. Dalam sesi panggung di BFI London Film Festival, Wilson menyebut ancaman pencabutan kewarganegaraan itu sebagai reaksi yang "hissteris, penuh kebencian, dan agresif". Ia menegaskan kedua sutradara dalam kondisi aman dan baik-baik saja.
Film dokumenter NAZA menyoroti dugaan penargetan sengaja sasaran sipil di Gaza oleh Israel. Tuduhan itu memicu gelombang kritik dari pejabat pemerintah Israel, termasuk ancaman terhadap status kewarganegaraan Szor dan Abraham.
Reaksi dari Pemerintah Israel
Wilson menyebut serangan balik dari anggota pemerintah Israel sebagai sesuatu yang "sangat sulit, menegangkan, mengerikan, dan menakutkan". Ia menyampaikan itu dalam percakapan di atas panggung BFI London Film Festival.
Menurut Wilson, sebagian besar kritik datang dari pihak yang belum menonton filmnya. Ia menilai reaksi itu justru menjadi bagian tak terpisahkan dari pesan yang ingin disampaikan NAZA.
Kondisi Sutradara Saat Ini
Meski menghadapi tekanan, Wilson memastikan Rachel Szor dan Yuval Abraham berada dalam kondisi aman. "Mereka aman, dan mereka baik-baik saja," ujarnya.
Ia juga menyinggung tulisan seorang jurnalis Israel di surat kabar Forward yang membahas reaksi publik terhadap film tersebut. Menurut Wilson, disonansi kognitif dari mereka yang berkomentar tanpa menonton justru memperkuat apa yang film ini coba ungkap.
Dimensi Meta dalam Kontroversi
Wilson menyebut ada aspek meta dari reaksi terhadap NAZA. Kritik yang muncul, katanya, mencerminkan persoalan yang diangkat film itu sendiri.
Hingga berita ini ditulis, percakapan di BFI London Film Festival masih berlangsung dan perkembangan lanjutan akan menyusul.
NAZA menambah daftar karya dokumenter yang memicu perdebatan politik di festival film internasional. Perhatian publik kini tertuju pada bagaimana industri film merespons tekanan terhadap kebebasan berkarya.