Tito Karnavian Salurkan Bantuan Terpadu untuk Percepat Pemulihan Aceh Tamiang

Penulis: Redaksi  •  Sabtu, 24 Januari 2026 | 09:10:05 WIB
Mendagri Tito Karnavian menyalurkan bantuan alat berat mini untuk percepatan pembersihan lumpur di Aceh Tamiang.

Aceh Tamiang — Pemerintah pusat terus mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana di Aceh Tamiang. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera menyalurkan bantuan terpadu dari Presiden Republik Indonesia dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jumat (23/1/2026).

Penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari langkah terintegrasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memulihkan fungsi pemerintahan, pelayanan publik, serta menggerakkan kembali aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat pascabencana.

Bantuan dari Presiden Republik Indonesia difokuskan pada percepatan pembersihan material lumpur di kawasan permukiman. Sebanyak sembilan unit skid steer loader disalurkan untuk mendukung proses tersebut. Alat berat berukuran mini ini dirancang agar dapat menjangkau gang-gang sempit tanpa menimbulkan kerusakan pada bangunan warga.

“Sembilan unit skid loader ini bukan kelas besar, melainkan kelas mini agar bisa masuk ke gang-gang. Kalau alat berat besar justru berisiko merobohkan rumah,” ujar Tito Karnavian di Kompleks Kantor Bupati Aceh Tamiang.

Sementara itu, Kemendagri turut memperkuat dukungan lapangan dengan menyalurkan bantuan logistik berupa 5.000 pasang sepatu bot, 3.000 unit gerobak dorong (lori), 1.000 sekop, serta 1.000 cangkul untuk mendukung kegiatan pembersihan dan pemulihan lingkungan.

Dalam kunjungan yang didampingi Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, Tito menegaskan bahwa Aceh Tamiang termasuk wilayah yang terdampak cukup parah. Banjir dan lumpur tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga pusat pemerintahan serta berbagai fasilitas publik.

“Aceh Tamiang ini terdampak cukup berat karena ibu kotanya terkena banjir dan lumpur. Kantor pemerintahan, fasilitas publik, rumah sakit, sarana pendidikan, pasar, hingga rumah penduduk ikut terdampak,” jelasnya.

Tito menyampaikan bahwa sejak hari pertama pascabencana, pemerintah pusat bersama pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, dengan dukungan berbagai kementerian dan lembaga, bergerak secara gotong royong. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil yang signifikan.

“Kondisi sekarang jauh lebih baik dibandingkan awal. Listrik sudah normal, internet kembali aktif, BBM tersedia, SPBU sudah beroperasi. Memang masih ada persoalan air minum, tetapi aktivitas ekonomi mulai bergerak, toko dan warung sudah banyak yang buka,” ungkapnya.

Untuk mempercepat proses pemulihan, Tito menekankan pentingnya penambahan alat berat serta personel di lapangan. Dukungan personel telah diperkuat, khususnya dari unsur TNI dan Polri. Selain itu, taruna dari berbagai sekolah kedinasan turut dikerahkan membantu langsung di lokasi terdampak.

“Saya sudah mengarahkan taruna yang sedang mengikuti Latsitarda, mulai dari Akmil, AL, AU, Akpol, Kadet Universitas Pertahanan, hingga Politeknik Siber dan Sandi Negara. Totalnya 1.788 personel. Ini bagian dari upaya bersama untuk mempercepat pemulihan Aceh Tamiang,” ujarnya.

Dari sisi pendanaan, pemerintah pusat juga telah menyiapkan berbagai dukungan anggaran. Di antaranya bantuan dari Kementerian Sosial berupa biaya hidup harian sebesar Rp15 ribu, bantuan perabotan Rp3 juta, serta stimulan ekonomi Rp5 juta bagi masyarakat terdampak.

Selain itu, anggaran Transfer ke Daerah (TKD) Tahun 2026 dikembalikan ke besaran Tahun 2025, dengan total lebih dari Rp10 triliun untuk tiga provinsi terdampak bencana, termasuk Aceh.

“Semoga bantuan dan dukungan dari Bapak Presiden ini dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mempercepat pemulihan di Aceh Tamiang. Saat ini, Aceh Tamiang menjadi salah satu daerah yang pemerintahan dan aktivitasnya belum sepenuhnya berjalan normal,” pungkas Tito.

Reporter: Redaksi
Back to top