Sahur di Tengah Pengungsian, Warga Aceh Tamiang Jualan Nasi untuk Praja IPDN

Penulis: Sutomo  •  Kamis, 19 Februari 2026 | 10:48:03 WIB

Warga yang terdampak banjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, memanfaatkan momen sahur pertama di pengungsian untuk mencari penghasilan dengan menjual makanan kepada praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Di Dusun Bahagia, Desa Bundar, Aceh Tamiang, seorang pengungsi bernama Siti Hasanah (59) tampak bersemangat menyambut sahur perdana di lokasi pengungsian. Perempuan yang akrab disapa Nur Lamek itu mengaku bangun sejak pukul 01.30 WIB demi menyiapkan masakan bagi para praja IPDN yang bertugas di kawasan tersebut.

Ia menuturkan bahwa dirinya langsung menawarkan diri untuk berjualan nasi setelah mendengar kabar adanya penugasan praja IPDN di lokasi pengungsian. Usulnya diterima, dan sejak itu ia mulai memasak serta menjajakan hidangan kepada para pekerja dan praja di area tersebut.

Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, Nur Lamek melihat peluang untuk menyediakan menu sahur sekaligus berbuka puasa. Pada sahur pertama, ia menyiapkan beragam lauk seperti ayam goreng, sop sayur, rendang, mi instan, telur dadar, hingga nasi goreng.

Harga yang dipatok sebesar Rp15 ribu per porsi, sementara khusus untuk praja IPDN diberikan harga Rp13 ribu.

Meski hanya mengandalkan lampu darurat sebagai penerangan dan menggunakan peralatan masak sederhana—wajan yang bagian luarnya masih menyisakan bekas lumpur banjir, kompor gas, serta perlengkapan seadanya—ia tetap memasak dengan cekatan.

Walaupun suasana sahur kali ini berbeda dari tahun sebelumnya karena berada di pengungsian, Nur Lamek tetap menjalaninya dengan penuh semangat dan senyuman. Baginya, perbedaan hanya terletak pada tempat, sementara rasa syukur dan keteguhan hati tetap sama meski sedang dilanda musibah.

Reporter: Sutomo
Back to top