ACEH – Sebagai bentuk komitmen nyata dalam pemulihan ekonomi nasional, Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) menggelar workshop pendampingan bagi pelaku usaha mikro di Aceh, Sabtu (21/2/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi strategis yang melibatkan alumni UNAIR, Universitas Malikussaleh (Unimal), serta Yayasan Peduli Pembangunan Ekonomi Pesisir Aceh (YAPPERA). Fokus utamanya adalah memberikan penguatan strategi bisnis dan mental bagi pelaku UMKM agar mampu bangkit pasca-bencana.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UNAIR, Prof. Dr. Bagong Suyanto, M.Si., menegaskan bahwa kehadiran UNAIR di Serambi Mekkah membawa misi pemberdayaan jangka panjang. Ia menekankan bahwa pengabdian masyarakat tidak boleh hanya bersifat hit-and-run atau datang sekali lalu hilang.
“LPMB UNAIR memiliki komitmen bahwa pengabdian itu harus berkelanjutan. Kami ingin memastikan ada manfaat yang membekas dan pemberdayaan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat untuk menata masa depan yang lebih baik,” tegas Prof. Bagong.
Workshop ini menghadirkan berbagai ahli untuk membedah strategi penguatan sendi-sendi ekonomi. Keberhasilan acara ini juga tidak lepas dari dukungan mitra lokal yang menjadi jembatan antara akademisi dan pelaku usaha di lapangan.
Rincian Kolaborasi & Tujuan Program:
| Komponen Program | Detail Informasi |
|---|---|
| Penyelenggara | LPMB Universitas Airlangga (UNAIR) |
| Mitra Strategis | Univ. Malikussaleh, Alumni UNAIR, & YAPPERA |
| Fokus Utama | Strategi Bisnis & Penguatan Mental UMKM |
| Target SDGs | SDG 1, 3, 8, 11, dan 17 |
| Durasi Kegiatan | 21 – 22 Februari 2026 |
Koordinator LPMB UNAIR, Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari, S.S., M.A., menyampaikan empati mendalam kepada masyarakat Aceh. Menurutnya, jarak geografis antara Surabaya dan Aceh tidak menjadi penghalang bagi semangat persaudaraan untuk saling membantu.
Ikhsan menjelaskan bahwa selain bantuan teknis, penguatan mental adalah kunci. Pelaku usaha mikro didorong untuk tidak terjebak dalam kesedihan pasca-bencana, melainkan mulai memetakan langkah-langkah adaptif ke depan.
“Kami ingin membantu bagaimana menghadapi jalan ke depan. Hidup pasti berjalan, dan kami hadir untuk mensupport agar Bapak-Ibu sekalian semakin tangguh,” ujar Ikhsan.
Program pengabdian ini juga dirancang untuk mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama dalam hal penghapusan kemiskinan (SDG 1), pertumbuhan ekonomi yang layak (SDG 8), dan kemitraan strategis (SDG 17).
Melalui workshop ini, diharapkan muncul ekosistem UMKM di Aceh yang lebih adaptif, inovatif, dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.