IDI RAYEUK – Tren minuman khas Malaysia, Air Balang, kini tengah meroket dan menjadi buruan utama warga di Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, sepanjang Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi. Sajian yang menawarkan kesegaran khas Negeri Jiran tersebut kini mendominasi daftar takjil favorit masyarakat setempat saat menjelang waktu berbuka.
Kepopuleran minuman ini membawa dampak ekonomi signifikan bagi para pelapak, salah satunya Sapri. Mengandalkan berbagai varian rasa yang menggugah selera, Sapri mampu mencatatkan omzet harian yang cukup menjanjikan, yakni berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta selama bulan suci ini.
"Dulu, saya kerja di Malaysia, sering lihat dan belajar langsung cara buat air balang. Waktu pulang kampung, saya coba jual. Alhamdulillah, responsnya bagus," ungkap Sapri saat ditemui di lapak dagangannya, Senin (23/2/2026).
Ide bisnis ini lahir dari pengamatan Sapri selama merantau sebagai pekerja migran. Di Malaysia, Air Balang memang menjadi komoditas primadona setiap kali Ramadhan tiba. Berbekal resep asli yang dipelajarinya, ia mencoba peruntungan di kampung halaman dan terbukti sukses menarik minat pembeli dari berbagai kalangan sejak pukul 16.00 WIB.
Sapri menjelaskan bahwa beberapa jenis rasa sering kali ludes dalam waktu singkat karena sensasi segarnya yang dinilai sangat pas untuk melepas dahaga setelah seharian berpuasa. "Beberapa varian rasa menjadi yang paling cepat habis karena rasanya yang segar dan cocok untuk berbuka puasa. Ini tentu menjadi berkah tersendiri di bulan Ramadhan," tuturnya.
Untuk mendongkrak penjualan sekaligus bersedekah, Sapri menerapkan strategi pemasaran unik melalui program "Jumat Berkah". Melalui promo beli dua gratis satu setiap hari Jumat, antrean pembeli di lapaknya semakin membeludak, menciptakan suasana semarak di pusat jajanan takjil Aceh Timur.
Kualitas bahan baku tetap menjadi prioritas utama Sapri guna menjaga kepercayaan pelanggan. Ia hanya menggunakan madu, kurma, dan sirup pilihan, serta memastikan kebersihan wadah tetap terjaga. Baginya, kepuasan konsumen adalah kunci agar usahanya tetap bertahan di tengah persaingan bisnis kuliner musiman.
Menatap masa depan, Sapri berambisi mengembangkan usahanya menjadi bisnis permanen yang tidak hanya mengandalkan momentum Ramadhan. "Saya berharap usahanya bisa terus berkembang, tidak hanya ramai saat bulan suci Ramadhan, tetapi juga di hari-hari biasa. Semoga ke depan bisa tambah varian lagi dan mungkin buka cabang agar bisa menciptakan lapangan kerja," pungkasnya.