BANDA ACEH — Dahliana, atau yang akrab disapa Lia, masih belum bisa melupakan malam Jumat pekan lalu. Toko oleh-oleh khas Aceh miliknya di pusat Kota Banda Aceh mati total—bukan karena tutup, melainkan listrik padam sejak menjelang magrib hingga subuh keesokan harinya.
“Terdampak kali, apalagi bagi kami yang jualan. Orang ramai di jalan, tapi di toko saya enggak ada orang,” ujar Lia kepada tvrinews, Sabtu (23/5).
Lia mengaku selama ini kawasan pusat kota relatif jarang mengalami pemadaman. Karena itu, ia belum pernah berpikir untuk membeli genset sebagai cadangan listrik. Malam itu, keputusan itu terbukti fatal.
“Biasanya mati lampu hanya beberapa jam, tapi tadi malam sampai subuh baru hidup lagi,” jelasnya. Tanpa penerangan, aktivitas jual beli nyaris berhenti. Pembeli yang datang hanya sedikit, padahal jalanan di depan tokonya tetap ramai.
“Pas kejadian seperti semalam baru kepikiran kenapa enggak beli genset dari dulu,” ucapnya sambil tertawa getir.
PT PLN (Persero) menyampaikan permohonan maaf atas pemadaman yang melanda Sumatra. Dalam keterangan resminya, perusahaan pelat merah itu menjelaskan bahwa gangguan berasal dari sistem transmisi listrik 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Kabupaten Bungo, Jambi.
“Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui terdapat gangguan pada transmisi 275 kV Muara Bungo-Sungai Rumbai di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi yang disebabkan oleh cuaca buruk,” demikian pernyataan PLN.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyebut gangguan pada ruas transmisi itu memicu efek domino pada sebagian sistem kelistrikan Sumatra akibat penurunan frekuensi dan beban berat pembangkit.
PLN mengklaim jaringan transmisi yang terganggu berhasil dipulihkan dalam waktu sekitar dua jam. Fokus berikutnya adalah mengoperasikan kembali pembangkit listrik dan menormalkan sistem secara bertahap.
Hingga Sabtu (23/5) pukul 10.00 WIB, PLN menyatakan lebih dari 8,3 juta pelanggan dari total 13,1 juta pelanggan terdampak telah kembali menikmati aliran listrik. Sebanyak 157 gardu induk dari total 176 gardu terdampak juga telah beroperasi normal.
Ratusan personel diterjunkan selama 24 jam di wilayah terdampak, mulai dari Jambi, Sumatra Barat, Riau, Sumatra Utara, hingga Aceh, untuk mempercepat pemulihan sistem kelistrikan.
Lia berharap pemadaman serupa tidak terulang. Ia sadar, pelaku UMKM kecil seperti dirinya adalah pihak yang paling rentan ketika listrik padam dalam waktu lama.
“Yang paling terdampak ya UMKM seperti kami, apalagi yang belum punya genset. Harapannya semoga ke depan jangan mati lampu lagi supaya usaha bisa berjalan normal,” tuturnya.