ACEH TAMIANG — Warga Desa Bandar Mahligai dan Sekerak Kiri di Kecamatan Sekerak akhirnya memiliki akses darat permanen setelah puluhan tahun bergantung pada perahu kayu untuk menyeberangi Sungai Tamiang. Jembatan Gantung Perintis Garuda yang membentang 240 meter kini menjadi jalur utama mobilitas warga, sekaligus menyandang status sebagai salah satu jembatan gantung perintis terpanjang di Indonesia.
Sebelum jembatan ini berdiri, warga yang hendak ke desa seberang harus memilih antara naik perahu kayu atau memutar melalui jalur darat yang memakan waktu satu hingga dua jam. Risiko menyeberang sungai dengan perahu, terutama saat arus deras, sudah jadi risiko yang harus diterima warga setiap hari. Kini, perjalanan dari Bandar Mahligai ke Sekerak Kiri hanya memakan waktu sekitar lima menit.
Pembangunan jembatan ini bukanlah proyek rutin. Prajurit TNI dari berbagai satuan dikerahkan untuk membangun jembatan sebagai respons cepat terhadap dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh tahun lalu. Dalam waktu sekitar tiga bulan, struktur sepanjang 240 meter itu berhasil diselesaikan. Progres pembangunan yang cepat ini dinilai krusial untuk memulihkan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat yang sempat lumpuh akibat bencana.
Dampak paling terasa dirasakan oleh pelajar dan pedagang. Anak-anak sekolah yang sebelumnya harus berhadapan dengan risiko menyeberang sungai kini bisa berangkat dengan lebih aman. Distribusi hasil bumi warga dari desa ke pasar juga berlangsung lebih efisien tanpa harus menunggu perahu atau memutar jauh. Aktivitas sehari-hari yang dulu penuh hambatan kini berjalan normal kembali.
Jembatan Gantung Perintis Garuda perlahan mulai menarik perhatian warga dari luar kecamatan. Panorama Sungai Tamiang dengan latar alam Sekerak yang masih asri, ditambah desain jembatan yang membentang panjang, membuat lokasi ini mulai ramai dikunjungi untuk bersantai atau berburu foto. Pemerintah setempat pun mulai melihat potensi jembatan ini sebagai destinasi wisata baru yang bisa menggerakkan ekonomi lokal.
Keberadaan jembatan ini tak hanya menyelesaikan masalah transportasi yang sudah berlangsung puluhan tahun, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat Aceh Tamiang untuk mengembangkan potensi desa mereka.