Impor Migas Melonjak 82%, Surplus Dagang RI Anjlok Drastis Jadi Hanya US$ 89 Juta

Penulis: Ragil  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 13:51:55 WIB
Impor migas Indonesia April 2026 melonjak 82% mencapai US$ 4,6 miliar.

ACEH — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, impor migas pada April 2026 mencapai US$ 4,6 miliar, melonjak drastis dari periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini membuat neraca perdagangan migas Indonesia defisit hingga US$ 3,44 miliar dalam satu bulan.

Defisit migas ini nyaris menggerus habis surplus dari sektor nonmigas yang tercatat US$ 3,53 miliar. Akibatnya, surplus total April hanya tersisa US$ 89,1 juta — angka yang sangat tipis jika dibandingkan surplus bulan Maret yang mencapai US$ 3,32 miliar.

"Neraca perdagangan barang pada April 2026 ini lebih banyak ditopang oleh komoditas nonmigas," ujar Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, dalam konferensi pers, Selasa (2/6).

Ekspor Naik, Tapi Kalah Cepat dari Impor

Secara tahunan, ekspor Indonesia pada April 2026 tumbuh 21,98% menjadi US$ 25,3 miliar. Namun, impor tumbuh lebih tinggi, yaitu 22,49% menjadi US$ 25,21 miliar. Perbedaan tipis inilah yang membuat surplus nyaris hilang.

Ekspor nonmigas naik 23,36% menjadi US$ 24,15 miliar, ditopang oleh lemak dan minyak hewani, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, ekspor migas justru turun 1,2% menjadi hanya US$ 1,15 miliar.

Sepanjang Januari-April 2026, total ekspor Indonesia mencapai US$ 92,15 miliar atau naik 5,48%. Namun, impor dalam periode yang sama naik lebih tinggi, 13,4%, menjadi US$ 86,51 miliar. Akumulasi surplus empat bulan pertama tahun ini hanya US$ 5,64 miliar, anjlok dibandingkan US$ 11,07 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

China Masih Jadi Sumber Defisit Terbesar

Dari sisi mitra dagang, surplus terbesar Indonesia pada Januari-April 2026 berasal dari Amerika Serikat sebesar US$ 5,76 miliar, disusul India US$ 3,98 miliar, dan Filipina US$ 2,92 miliar.

Sebaliknya, defisit terdalam masih terjadi dengan China yang mencapai US$ 6,28 miliar. Disusul Singapura sebesar US$ 2,41 miliar, dan Australia US$ 1,75 miliar. Pola ini menunjukkan ketergantungan Indonesia pada impor barang modal dan bahan baku dari China masih sangat tinggi.

Merosotnya surplus perdagangan ini menjadi sinyal waspada bagi pelaku industri dan perbankan. Jika tren impor migas terus melonjak, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan neraca pembayaran bisa semakin besar dalam beberapa bulan ke depan.

Reporter: Ragil
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top