Angin Kencang Ancam Perluas Kebakaran 19 Hektare di Tiga Kabupaten Aceh, Nagan Raya Jadi Episentrum

Penulis: Saiful  •  Rabu, 03 Juni 2026 | 11:00:14 WIB
Petugas pemadam kebakaran berupaya memblokade perluasan api di kawasan Gampong Kayee Uneo, Nagan Raya.

NAGAN RAYA — Ancaman perluasan kebakaran hutan dan lahan di Aceh kian nyata. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyebut cuaca kering yang disertai angin kencang menciptakan kondisi ideal bagi percepatan rambatan api.

“Vegetasi lahan yang mengering akibat paparan panas berkepanjangan menjadi bahan bakar mudah terbakar, sementara angin berperan sebagai akselerator yang menyebarkan percikan api ke area yang lebih luas,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan resminya.

Dua Titik Api di Nagan Raya Masih Berkobar

Direktorat Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB mencatat eskalasi titik api terbesar terkonsentrasi di Kabupaten Nagan Raya. Luasan lahan terbakar sementara mencapai 17 hektare, menjadikan wilayah ini sebagai episentrum kebakaran di Aceh saat ini.

Kebakaran melanda dua wilayah berbeda secara bersamaan. Kawasan Gampong Kayee Uneo di Kecamatan Darul Makmur dan Gampong Babah Lueng di Kecamatan Tripa Makmur sama-sama dilanda api. Tim gabungan mengerahkan dua mesin pompa air untuk memblokade pergerakan api, berupaya mencegah perluasan ke pemukiman dan area perkebunan warga.

Strategi pemblokiran menjadi prioritas. Karakteristik vegetasi di kawasan tersebut yang didominasi semak belukar dan tanaman kering membuat api dapat merambat cepat mengikuti arah angin, mengancam ratusan hektare lahan produktif di sekitarnya.

Bara di Bawah Tanah Hambat Pemadaman di Aceh Barat

Kabupaten Aceh Barat menghadapi tantangan berbeda. Kebakaran yang menghanguskan sedikitnya dua hektare lahan di Gampong Berawang dan Gampong Kuta Padang Layung, Kecamatan Bubon, tampak sudah mereda di permukaan. Namun realitas di bawah tanah bercerita lain.

Abdul Muhari menjelaskan operasi pemadaman darat masih terus bergulir lantaran bara api di lapisan bawah tanah belum sepenuhnya padam. Fenomena ini dikenal sebagai ground fire atau kebakaran bawah tanah, di mana api membakar material organik seperti gambut atau humus yang tertimbun di bawah permukaan.

Kebakaran jenis ini jauh lebih sulit dideteksi dan dipadamkan karena tidak terlihat secara kasat mata. Api dapat terus membara berhari-hari bahkan berminggu-minggu di bawah tanah, kemudian tiba-tiba muncul kembali ke permukaan ketika menemukan celah atau material yang mudah terbakar. Kondisi ini memaksa tim pemadam untuk tetap waspada dan melanjutkan operasi meski secara visual api di permukaan sudah padam.

Kabar Baik dari Aceh Tengah: Api Padam Total

Di tengah kesulitan yang dihadapi dua kabupaten lainnya, ada kabar positif dari Kabupaten Aceh Tengah. Kebakaran yang sempat menghanguskan tiga hektare lahan di Kecamatan Ketol, Bebesen, dan Kebayakan dipastikan telah berhasil dipadamkan total oleh petugas pemadam kebakaran setempat.

Keberhasilan ini menunjukkan efektivitas respons cepat dan koordinasi tim lapangan. Tim berhasil mengisolasi titik api sebelum menyebar ke area yang lebih luas. Topografi wilayah yang berbeda dengan dua kabupaten lainnya kemungkinan juga berperan dalam mempermudah akses tim pemadam.

Potensi Perluasan dan Ancaman ke Depan

Peringatan BNPB tentang potensi perluasan kebakaran bukan tanpa dasar. Hasil pemantauan visual menunjukkan api di Nagan Raya dan Aceh Barat belum berhasil dipadamkan dan masih dalam tahap penanganan intensif. Kondisi cuaca yang terus panas tanpa tanda-tanda akan turun hujan dalam waktu dekat memperburuk prospek pemadaman.

Tim gabungan di dua kabupaten tersebut terus bersiaga. Upaya pemadaman difokuskan pada pemblokiran jalur rambatan api dan pendinginan area yang masih mengandung bara di bawah permukaan tanah.

Reporter: Saiful
Sumber: journalarta.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top