BIREUEN — Jalan-jalan yang sebelumnya putus akibat bencana kini kembali menghubungkan desa dengan pusat ekonomi. Sekolah yang sempat rusak berat sudah bisa dipakai belajar. Ribuan keluarga korban banjir dan tanah longsor di Aceh mulai menempati hunian tetap (huntap) yang dibangun secara bertahap.
Perubahan ini dikawal langsung oleh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Safrizal ZA. Timnya bergerak di sejumlah daerah terdampak, memastikan pembangunan tidak hanya fisik, tapi juga mengembalikan rasa aman warga.
Di Aceh Tamiang, progres pembangunan huntap menunjukkan angka signifikan. Dari total 40 lokasi yang diusulkan, sebanyak 37 lokasi telah dinyatakan siap untuk segera dibangun. Program ini menjadi prioritas utama bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir dan tanah longsor pada akhir 2025 lalu.
Selain hunian, infrastruktur dasar seperti jembatan, fasilitas umum, dan akses jalan juga terus dipulihkan. Satgas PRR menargetkan pemulihan menyeluruh agar aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat bisa berjalan normal kembali.
Dampak pemulihan ini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Ahmat Amin, warga Bireuen, mengaku optimistis dengan perubahan yang terjadi di sekitarnya.
“Sekarang akses ke kota lebih mudah, anak-anak bisa bersekolah di gedung yang layak, dan kami memiliki kesempatan untuk mengembangkan usaha. Ini perubahan yang sangat berarti bagi kami,” ujarnya kepada Berita Rakyat Aceh.
Menurut Ahmat, pembangunan yang dilakukan tidak hanya memperbaiki kondisi fisik wilayah, tetapi juga mengembalikan semangat dan optimisme masyarakat setelah menghadapi berbagai kesulitan akibat bencana.
Satgas PRR menekankan bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti pada perbaikan infrastruktur. Melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat, mereka berupaya memastikan warga bisa kembali produktif dan sejahtera.
Di tengah berbagai tantangan yang masih ada, jejak kerja Satgas PRR menjadi bukti bahwa pemulihan yang terencana dan kolaboratif mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat Aceh. Jalan yang mulus, sekolah yang layak, dan hunian tetap menjadi fondasi awal bagi masa depan yang lebih baik.