TAKENGON — Sebanyak 40 siswa SMA Negeri 19 kelas jauh di Kecamatan Rusip Antara masih menjalani proses belajar mengajar di bangunan milik pesantren dan desa setempat. Fasilitas itu digunakan setelah sekolah mereka rusak parah akibat bencana yang melanda Aceh Tengah.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Tengah, Muslim Ibrahim, menyebutkan setidaknya dua sekolah yang mengalami kerusakan berat adalah SMA Negeri 19 kelas jauh di Kecamatan Rusip Antara dan SMA Negeri 13 kelas jauh di Desa Jamat, Kecamatan Linge. Selain itu, SMK Negeri 5 rusak sedang dan SMA Negeri 4 mengalami kerusakan ringan.
Menurut Muslim, pemindahan lokasi belajar terpaksa dilakukan karena akses menuju sekolah lama berada di kawasan perbukitan yang rawan longsor susulan. “Untuk menghindari risiko longsor susulan, proses belajar mengajar terpaksa dipindahkan,” ujarnya, Rabu (16/6).
Pemerintah telah merekomendasikan relokasi SMA Negeri 19 kelas jauh ke Desa Panten Tengah dengan lahan seluas sekitar 11 hektare. Proses pemulihan pendidikan berjalan beriringan dengan rehabilitasi infrastruktur daerah yang juga rusak parah.
Kekhawatiran tidak hanya dirasakan siswa. Rahman Gayo, warga Takengon, mengatakan persoalan utama pascabencana bukan sekadar membangun kembali ruang kelas, melainkan jaminan keselamatan anak-anak. “Anak-anak masih takut bersekolah karena longsor bisa terjadi sewaktu-waktu. Orang tua juga khawatir karena jalan menuju sekolah di pedalaman masih rawan jika hujan deras turun,” ujarnya.
Kondisi geografis Aceh Tengah yang didominasi perbukitan menjadi tantangan tersendiri. Muslim mengakui hampir seluruh lereng yang sebelumnya ditumbuhi vegetasi kini berubah menjadi kebun kopi. Saat bencana terjadi, sebagian kawasan tersebut ikut terbawa longsor.
Dinas PUPR Aceh Tengah mencatat sedikitnya 300 ruas jalan dan sekitar 110 jembatan mengalami kerusakan akibat banjir bandang dan longsor. Kerusakan akses transportasi itu turut memperlambat distribusi material bangunan untuk rehabilitasi sekolah dan pemulihan sektor lainnya.
Meski demikian, pemerintah memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Sebagian besar sekolah kini telah kembali beroperasi normal, meski beberapa di antaranya masih memanfaatkan fasilitas darurat sambil menunggu proses rehabilitasi dan relokasi rampung.
Bagi masyarakat Aceh Tengah, pemulihan sekolah bukan hanya soal membangun kembali ruang kelas yang rusak. Yang lebih penting adalah memastikan ribuan siswa dapat belajar tanpa dihantui rasa takut setiap kali hujan turun di dataran tinggi Gayo.