BIREUEN — Warga Kabupaten Bireuen kini tak perlu lagi meluangkan waktu setengah hari hanya untuk mengurus paspor. Kantor Imigrasi Kelas II TPI Lhokseumawe memulai program jemput bola yang membawa seluruh proses pembuatan paspor—dari verifikasi dokumen hingga pengambilan data biometrik—langsung ke tingkat desa.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Lhokseumawe, Azhan Miraza, menyatakan program ini merupakan respons atas keluhan warga yang tinggal jauh dari pusat kota. “Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan pelayanan keimigrasian mudah dijangkau seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya di Lhokseumawe, Kamis.
Dalam layanan jemput bola ini, petugas tidak sekadar membuka loket pendaftaran. Seluruh tahapan standar operasional prosedur (SOP) penerbitan paspor dijalankan di lokasi, mulai dari pemeriksaan dan verifikasi dokumen, pengambilan foto dan sidik jari, hingga sesi wawancara dengan pemohon.
Azhan menjelaskan, sebelum turun ke lapangan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat dan menyiapkan sarana prasarana pendukung. “Kami ingin memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan tertib, aman, dan lancar,” katanya.
Layanan perdana di Desa Cot Buket tidak berjalan sendiri. Tim dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Aceh turun langsung untuk memantau pelaksanaan di lapangan. Pemantauan ini, menurut Azhan, menjadi bagian dari pembinaan dan evaluasi terhadap kualitas pelayanan publik di wilayah Aceh.
“Kehadiran kantor wilayah juga menjadi bentuk dukungan terhadap berbagai inovasi pelayanan yang dilaksanakan oleh satuan kerja,” imbuhnya.
Salah satu kunci kelancaran program ini adalah edukasi yang diberikan sebelum proses dimulai. Petugas memberikan penjelasan rinci mengenai persyaratan permohonan paspor dan alur pelayanan. Pemeriksaan awal terhadap kelengkapan dokumen dilakukan agar pemohon tidak bolak-balik hanya karena berkas kurang.
Azhan menambahkan, antusiasme warga cukup tinggi karena layanan ini menghemat waktu dan biaya transportasi. “Pelayanan dapat diakses lebih dekat dengan tempat tinggal mereka tanpa harus datang langsung ke kantor imigrasi,” ujarnya.
Ke depan, Kantor Imigrasi Lhokseumawe berencana memperluas jangkauan layanan jemput bola ke desa-desa lain di Kabupaten Bireuen dan sekitarnya. Inovasi ini diharapkan menjadi model pelayanan keimigrasian yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat Aceh.