Pencarian

Dekranasda Nagan Raya Belajar Kerajinan ke Sentra IKM Aceh Besar

Senin, 10 Agustus 2026 • 09:44:32 WIB
Dekranasda Nagan Raya Belajar Kerajinan ke Sentra IKM Aceh Besar
Sentra kerajinan Aceh. (Foto: NET)

ACEH - Sentra kerajinan di Aceh Besar kembali menjadi tujuan kunjungan daerah lain yang ingin belajar mengembangkan produk kriya berbasis kearifan lokal, kali ini dari Kabupaten Nagan Raya.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Nagan Raya, Ny. Cut Inda TR Keumangan, memimpin langsung rombongan yang mengunjungi Showroom dan Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Dekranasda Aceh Besar di Gampong Gani, Kecamatan Ingin Jaya, pada Jumat, 17 April 2026.

Kedatangan tersebut disambut Ketua Dekranasda Aceh Besar, Hj. Rita Mayasari, dan berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Diskusi berkisar pada potensi produk kerajinan, cara pembinaan pengrajin, hingga peluang kolaborasi yang bisa dirasakan manfaatnya oleh pelaku IKM di dua kabupaten.

Kunjungan lintas daerah semacam ini dinilai penting di tengah tuntutan industri kerajinan untuk terus berbenah — produk berbasis budaya kini dituntut tak hanya kental nilai tradisional, tapi juga unggul dari sisi kualitas, desain, kemasan, dan strategi pemasaran yang relevan dengan pasar masa kini.

Produk Andalan yang Diperkenalkan Dekranasda Aceh Besar

Hj. Rita Mayasari memperkenalkan sejumlah produk unggulan yang dikembangkan dan dipasarkan lewat jejaring Dekranasda Aceh Besar, meliputi bordir, songket, batik Malaka, dan aneka anyaman.

Menurutnya, pembinaan pengrajin menjadi salah satu program inti Dekranasda — bukan sekadar mengasah keterampilan produksi, tapi juga mencakup pendataan, pengembangan kapasitas, dan dorongan berinovasi. Program KUPER, KEPOMPONG, dan SUPA disebut menjadi bagian dari pembinaan sekaligus pendataan langsung di lapangan.

Ia menambahkan, kolaborasi antardaerah membuka ruang baru bagi pengrajin untuk belajar dari daerah lain — mulai dari teknik produksi, pengembangan desain, hingga cara memperluas jangkauan pasar. Kunjungan ini menegaskan bahwa pengembangan kerajinan idealnya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan lewat jejaring antarpelaku dan antarlembaga yang memperluas promosi produk khas Aceh.

Kekayaan Kerajinan di Aceh Besar

Budaya Aceh yang kaya bisa diwujudkan dalam berbagai produk kreatif — kain tradisional, sulaman, bordir, songket, batik, hingga kerajinan berbahan alam.

Di Aceh Besar sendiri, sejumlah sentra kerajinan tumbuh berkat pembinaan masyarakat, salah satunya Gampong Lampanah Tunong di Kecamatan Indrapuri, yang pernah dinilai Dekranas Aceh sebagai calon gampong kerajinan berkat produksi kerajinan bili yang meraih penghargaan tingkat nasional.

Perkembangan Malaka Batik juga menjadi bukti potensi tersebut. Pada Januari 2024, rumah Malaka Batik binaan Dekranasda Aceh Besar dikunjungi PIA Ardhya Garini Lanud Sultan Iskandar Muda, lokasi yang berfungsi ganda sebagai tempat penjualan sekaligus memperlihatkan proses pembuatan batik dari desain hingga pewarnaan.

Ini membuktikan sentra kerajinan bisa berfungsi lebih luas — sebagai ruang belajar, showroom, pusat promosi, sekaligus sarana bercerita tentang produk. Nilai kerajinan memang tak melulu soal fisik, melainkan juga motif, teknik, bahan, dan kisah budaya di baliknya.

Nagan Raya Tertarik pada Sulaman Aceh Besar

Ny. Cut Inda TR Keumangan mengapresiasi sambutan yang diterima rombongannya, dan menyebut kunjungan ini sebagai kesempatan mempelajari potensi kerajinan Aceh Besar, terutama produk sulaman.

Ketertarikan itu memperlihatkan peluang pertukaran pengetahuan antardaerah, mengingat setiap wilayah punya karakter motif, teknik pengerjaan, dan selera pasar masing-masing yang bisa saling menginspirasi tanpa menghilangkan identitas budaya asal.

Kerja sama semacam ini juga membuka peluang perluasan jaringan bagi pengrajin, di mana produk yang tadinya hanya dikenal satu kabupaten bisa diperkenalkan ke daerah lain lewat pameran, showroom, kegiatan Dekranasda, hingga kanal pemasaran digital.

Pemerintah Aceh sendiri terus mendorong agar produk kerajinan lokal tidak berhenti di pasar tradisional. Pada 2025, Pemerintah Aceh menekankan pentingnya digitalisasi UMKM, termasuk gagasan menjadikan galeri Dekranasda sebagai platform digital penghubung pengrajin dan konsumen — sejalan dengan kemudahan akses lewat foto produk, katalog digital, media sosial, marketplace, dan pengiriman barang.

Pembinaan Jadi Fondasi Pengembangan IKM

Industri kerajinan sangat bergantung pada keterampilan tangan pengrajin, sehingga pembinaan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendasar — mencakup teknik produksi, pemilihan bahan, desain, pewarnaan, pengemasan, kontrol kualitas, hingga pemasaran.

Aceh Besar telah menggelar sejumlah kegiatan penguatan kapasitas UMKM, termasuk pelatihan pemasaran digital di Gedung Dekranasda Aceh Besar pada 2023 yang membantu pelaku usaha menghadapi transformasi digital.

Sebab kualitas produk saja tak cukup menjamin keberhasilan usaha — pengrajin juga perlu menguasai cara membangun identitas merek, memotret produk, menulis deskripsi, menetapkan harga, hingga mengelola pesanan agar produk tradisional tampil lebih modern tanpa kehilangan ciri khasnya.

Pasar Kerajinan yang Terbuka Luas

Konsumen produk kerajinan datang dari berbagai kalangan — masyarakat lokal, wisatawan, kolektor, komunitas budaya, perusahaan, instansi pemerintah, hingga pasar ekspor.

Momentum PON XXI Aceh-Sumut 2024 menjadi contoh nyata, ketika produk UMKM dan kerajinan binaan Dekranasda Aceh Besar seperti tas bordir, dompet bordir, batik Malaka, bakul, tas berbahan bili, hingga kerajinan pelepah pinang dipasarkan di berbagai venue dan menyita perhatian pengunjung.

Namun momentum pameran perlu ditindaklanjuti dengan strategi pemasaran berkelanjutan setelah acara berakhir, memadukan kanal offline dan online — pameran untuk perkenalan langsung, kanal digital untuk menjaga relasi dengan konsumen.

Membuka Pasar Baru Lewat Kolaborasi

Kunjungan Dekranasda Nagan Raya ke Aceh Besar bukan sekadar seremoni tukar cinderamata, melainkan berpotensi menjadi titik awal kerja sama nyata — pelatihan bersama, pertukaran instruktur, pameran gabungan, pengembangan desain, promosi lintas daerah, hingga pembukaan akses pasar baru.

Aceh Besar bisa berbagi pengalaman soal batik, bordir, songket, dan anyaman, sementara Nagan Raya bisa memperkenalkan potensi kreatif khas wilayahnya. Model kolaborasi seperti ini membuat tiap daerah tak perlu bersaing langsung, melainkan saling menonjolkan keunggulan dan membangun identitas kolektif dalam ekosistem kerajinan Aceh.

Dekranas turut menempatkan pembinaan pengrajin sebagai agenda penting pengembangan industri kriya. Dalam rangkaian HUT ke-46 Dekranas pada 2026, Ketua Umum Dekranas mendorong penguatan kualitas, desain, kemasan, digitalisasi, akses permodalan, dan pemasaran internasional agar pengrajin naik kelas — arahan yang relevan menjadi acuan pengembangan di tingkat daerah.

Menyeimbangkan Tradisi dan Perubahan

Tantangan besar industri kerajinan adalah menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi, mengingat produk tradisional punya nilai budaya yang perlu dilestarikan sementara selera konsumen terus berubah.

Inovasi tak selalu berarti mengubah motif tradisional secara besar-besaran — bisa lewat ukuran, warna, model, kemasan, atau fungsi produk. Bordir tradisional misalnya bisa diaplikasikan ke tas, dompet, aksesori, pakaian, hingga perlengkapan rumah, sedangkan songket bisa dikembangkan menjadi produk fesyen dan suvenir yang lebih relevan dengan kebutuhan konsumen masa kini.

Batik Malaka menjadi contoh nyata bagaimana identitas daerah bisa diterjemahkan menjadi produk bernilai ekonomi. Pelatihan lanjutan batik yang digelar Dekranasda Aceh Besar pada Juni 2026 juga membuktikan pengembangan keterampilan terus berlanjut demi memperkuat daya saing produk lokal.

Peran Konsumen Mendukung Pengrajin

Keberlangsungan industri kerajinan pada akhirnya juga bergantung pada dukungan konsumen. Membeli produk lokal berarti menyalurkan pemasukan langsung ke rantai ekonomi yang melibatkan pengrajin, pemasok bahan, pekerja, hingga distributor.

Dukungan bisa berupa promosi lewat media sosial, memberi ulasan positif, atau memilih kerajinan lokal sebagai cendera mata. Pemerintah Aceh sebelumnya juga mendorong agar produk kerajinan lokal mendapat ruang lebih besar di galeri, bandara, pusat perbelanjaan, hingga hotel untuk memperluas titik temu dengan konsumen.

Agenda Lanjutan Usai Kunjungan

Pertemuan dua Dekranasda ini berpeluang menjadi cikal bakal program bersama yang lebih terarah, mulai dari pameran bersama, pertukaran pengetahuan, pelatihan pengrajin, promosi digital, hingga pengembangan produk kolaboratif.

Pendataan pengrajin — mencakup jenis produk, kapasitas produksi, kebutuhan bahan baku, keterampilan, hingga akses pasar — perlu terus diperkuat agar pemerintah daerah bisa menentukan bentuk intervensi yang tepat sasaran.

Penguatan kemasan dan identitas merek juga penting agar produk berkualitas lebih mudah bersaing lewat presentasi yang profesional, sementara sektor pariwisata bisa dilibatkan dengan mengarahkan wisatawan mengenal proses produksi hingga membeli langsung dari pengrajin.

Kerajinan sebagai Modal Ekonomi dan Budaya

Kunjungan Dekranasda Nagan Raya ke Aceh Besar menegaskan bahwa pengembangan industri kerajinan membutuhkan kerja sama yang konsisten antardaerah.

Aceh punya modal budaya yang kuat untuk mengembangkan industri kreatif — bordir, sulaman, songket, batik, anyaman, dan kerajinan berbahan lokal bukan sekadar bernilai ekonomi, tapi juga menyimpan identitas masyarakatnya.

Tantangan ke depan adalah memastikan nilai itu diterjemahkan jadi produk berkualitas, inovatif, mudah diakses, dan punya pasar berkelanjutan — lewat digitalisasi, pelatihan, penguatan merek, pameran, serta kolaborasi antardaerah.

Pertemuan di Showroom dan Sentra IKM Dekranasda Aceh Besar menjadi momentum mempererat hubungan Aceh Besar dan Nagan Raya, sekaligus pengingat bahwa pengembangan kerajinan adalah kerja bersama pemerintah daerah, Dekranasda, pengrajin, pelaku usaha, sektor pariwisata, dan konsumen.

Jika kolaborasi ini terus dipupuk, produk kerajinan khas daerah berpeluang makin dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat penjaga warisan keterampilan lintas generasi ini.

Follow pantauaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Terkini

Indeks