ACEH BARAT — Selama berbulan-bulan, warga dan siswa SD di KAT Sikundo nekat menyeberangi sungai menggunakan sisa-sisa kabel ayun jembatan gantung yang runtuh. Risiko jatuh dan hanyut mengintai setiap kali mereka melintas, terutama saat arus sungai deras.
Keputusan Pemkab Aceh Barat menyiagakan rakit darurat menjadi solusi jangka pendek yang dinantikan. “Rakit ini kita pasangkan pada katrol yang terikat pada tali kabel baja, agar masyarakat dapat melintasi sungai tanpa khawatir bahaya,” kata Plt Kepala BPBD Aceh Barat Teuku Ronal di Aceh Barat, Sabtu.
Banjir bandang tahun lalu merusak total jembatan gantung yang selama ini menjadi satu-satunya akses penghubung KAT Sikundo dengan kecamatan. Sejak itu, warga terpaksa menggunakan sisa-sisa kabel ayun yang sangat berisiko tinggi. Anak-anak sekolah pun terpaksa bertaruh nyawa demi terus bersekolah.
Kondisi itu memicu kekhawatiran para orang tua dan guru. Pemerintah daerah kemudian bergerak cepat dengan menyiapkan sarana penyeberangan alternatif. Sebelumnya, Polres Aceh Barat juga telah menyiapkan sarana sementara di lokasi yang sama.
Armada darurat berukuran sekitar empat meter ini dirancang secara khusus. Rakit mengombinasikan drum plastik sebagai pelampung, pelat besi sebagai rangka, dan lantai kayu yang kokoh. Prinsip kerjanya memanfaatkan dorongan arus sungai secara terukur.
Teuku Ronal menjelaskan, sistem katrol dan tali kabel baja membuat rakit tetap stabil saat melintas. Warga dan pelajar cukup menaiki rakit, lalu arus sungai mendorongnya ke seberang. “Mekanisme penyeberangan memanfaatkan dorongan arus sungai secara terukur, sehingga aman digunakan untuk mobilitas warga maupun anak-anak sekolah,” ujarnya.
Pemasangan rakit darurat ini merupakan solusi jangka pendek agar akses vital pendidikan dan ekonomi masyarakat Sikundo tidak terputus total. Pemerintah Kabupaten Aceh Barat telah mengusulkan anggaran Rp26 miliar untuk menangani kerusakan akses jalan menuju KAT Sikundo secara permanen.
Belum ada kepastian kapan jembatan baru dibangun. Namun, dengan adanya rakit darurat, warga dan anak-anak sekolah setidaknya bisa kembali beraktivitas tanpa mempertaruhkan keselamatan jiwa.