Sekretaris Umum HMI Badko Aceh Tawarkan Paradigma Meuseuraya untuk Bangun Persatuan dan Relevansi Nasional

Penulis: Saiful  •  Minggu, 26 Juli 2026 | 19:47:01 WIB
Fadli, Sekretaris Umum HMI Badko Aceh, menyampaikan gagasan paradigma Meuseuraya sebagai nilai gotong royong untuk memperkuat persatuan dan relevansi nasional organisasi.

Belakangan ini, energi HMI banyak tersita oleh perselisihan internal, perbedaan politik, dan menurunnya budaya intelektual. Menurut Fadli, kondisi itu menghambat peran organisasi sebagai laboratorium kader dan solusi bangsa. Padahal, HMI didirikan Lafran Pane pada 5 Februari 1947 untuk menjaga keislaman sekaligus keindonesiaan.

Falsafah Meuseuraya: Gotong Royong sebagai Paradigma Organisasi

"Meuseuraya adalah falsafah masyarakat Aceh yang berarti bergotong royong, bekerja bersama, saling menguatkan, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi," tulis Fadli dalam tulisannya. Nilai ini, yang telah hidup selama berabad-abad di Aceh, menurut dia dapat diangkat menjadi paradigma nasional bagi HMI.

Ia menegaskan HMI Meuseuraya bukan romantisme budaya, melainkan pendekatan organisasi. Kolaborasi ditempatkan di atas polarisasi, dialog di atas konflik, dan pengabdian di atas ambisi kekuasaan. Perbedaan pandangan tetap dijaga sebagai tradisi intelektual, tetapi diarahkan untuk melahirkan sintesis pemikiran.

Budaya Organisasi Menentukan Masa Depan

Fadli merujuk pada pemikiran Peter Drucker yang mengatakan culture eats strategy for breakfast. Ia juga mengutip Edgar H. Schein bahwa nilai dan kebiasaan bersama lebih menentukan masa depan organisasi daripada struktur formal. Warren Bennis melengkapi bahwa organisasi yang bertahan adalah yang mampu belajar, beradaptasi, dan membangun kepercayaan.

Dalam konteks ini, ia mengingatkan bahwa persaingan internal dan polarisasi politik kerap mengalihkan perhatian HMI dari peran intelektual. "Ukuran keberhasilan HMI tidak boleh berhenti pada banyaknya kader yang menduduki jabatan publik, tetapi sejauh mana organisasi ini mampu menghadirkan solusi atas persoalan bangsa," tulisnya.

Rujukan Cak Nur dan Akbar Tandjung

Fadli mengutip Nurcholish Madjid yang menekankan keterbukaan berpikir, tradisi ilmu pengetahuan, dan keberanian melakukan pembaruan. Spirit "Islam Yes, Partai Islam No" menurutnya adalah ajakan agar umat Islam tidak menyempitkan nilai-nilai Islam menjadi identitas kelompok semata. Ia juga merujuk Akbar Tandjung yang menegaskan kaderisasi bukan sekadar regenerasi, melainkan pembangunan karakter dan kemampuan menyelesaikan persoalan masyarakat.

Lima Agenda Pembaruan HMI ke Depan

Untuk mewujudkan HMI Meuseuraya secara nasional, Fadli mengusulkan lima agenda. Pertama, menghidupkan kembali tradisi intelektual melalui riset, publikasi ilmiah, diskusi kebangsaan, dan budaya membaca. Kedua, melakukan transformasi digital organisasi agar administrasi dan kaderisasi lebih modern.

Agenda lainnya mencakup penguatan fokus HMI pada isu-isu kekinian seperti kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, ketahanan pangan, perubahan iklim, energi baru terbarukan, ekonomi syariah, hingga pemberdayaan UMKM. Ia menekankan HMI harus menjadi pusat lahirnya kajian kebijakan publik dan inovasi sosial yang menjawab tantangan Indonesia menuju bonus demografi 2045.

Reporter: Saiful
Sumber: portalsatu.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top