19 Titik Panas Terdeteksi di Aceh, Aceh Besar Catat Terbanyak dengan 11 Hotspot Sebar di Indrapuri dan Kuta Cot Glie

Penulis: Saiful  •  Selasa, 28 Juli 2026 | 16:53:31 WIB
BMKG mendeteksi 19 titik panas di Aceh pada 26 Juli 2026, dengan Aceh Besar sebagai wilayah tertinggi mencapai 11 hotspot.

BANDA ACEH — Sebanyak 19 titik panas (hotspot) terpantau di Provinsi Aceh berdasarkan hasil pemantauan satelit BMKG pada 26 Juli 2026. Sebaran terbanyak berada di Kabupaten Aceh Besar dengan 11 titik, disusul Aceh Utara dan sejumlah wilayah lainnya.

Sensor MODIS Deteksi Anomali Suhu di 4 Wilayah

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I SIM Banda Aceh, Fitriana Nur, menjelaskan titik panas itu terdeteksi melalui sensor MODIS pada satelit Terra, Aqua, Suomi NPP, dan NOAA20/VIIRS. Data tersebut menjadi indikator awal adanya peningkatan suhu permukaan yang perlu diverifikasi di lapangan.

“Informasi titik panas merupakan hasil deteksi satelit terhadap anomali suhu permukaan. Hotspot tidak selalu menunjukkan telah terjadi kebakaran hutan dan lahan, namun menjadi indikator awal yang perlu ditindaklanjuti melalui pengecekan di lapangan oleh instansi terkait,” ujar Fitriana Nur, Selasa (28/7/2026).

11 Titik di Aceh Besar, Satu di Kuta Cot Glie Berisiko Tinggi

Dari total 11 titik di Aceh Besar, satu titik di Kecamatan Kuta Cot Glie terdeteksi memiliki tingkat kepercayaan tinggi. Sisanya berkategori sedang. BMKG juga mencatat tiga titik panas di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.

Dua titik terpantau di Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie. Sementara itu, masing-masing satu titik berada di Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, serta Kecamatan Banda Raya dan Jaya Baru, Kota Banda Aceh. Sebagian besar hotspot di luar Aceh Besar memiliki tingkat kepercayaan sedang.

Imbauan ke Warga: Jangan Buka Lahan dengan Cara Dibakar

Fitriana mengimbau pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, TNI/Polri, dan masyarakat agar waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah yang terpantau memiliki hotspot. Pemantauan berkala disebut perlu terus dilakukan agar potensi kebakaran bisa dideteksi lebih dini.

“Kami juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama saat kondisi cuaca mendukung,” katanya.

BMKG menyatakan akan terus memantau perkembangan titik panas di Aceh dan memperbarui informasi kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana hidrometeorologi dan kebakaran hutan maupun lahan.

Reporter: Saiful
Sumber: waspadaaceh.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top