GAYO LUES — Ratusan warga Desa Kendawi, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, masih bergantung pada seutas tali baja darurat yang dibentangkan di atas sungai untuk beraktivitas sehari-hari. Infrastruktur darurat itu terpaksa dijadikan jembatan utama setelah akses permanen putus total dihantam banjir bandang pada November 2025.
Setiap pagi, para siswa SDN Kendawi dan SMPN satu atap Kendawi terlihat berjalan hati-hati di atas titi gantung yang terbuat dari tali baja. Mereka menyeberang dengan perlengkapan sekolah di punggung, sementara arus sungai di bawahnya mengalir deras dan mengancam keselamatan.
Kepala Desa setempat menyebutkan, meskipun terdapat jalur alternatif menuju sekolah, jaraknya sangat jauh dan memakan waktu berjam-jam. Warga harus menempuh rute sepanjang 25 kilometer lebih jika ingin menghindari jembatan gantung darurat tersebut.
Kondisi ini memaksa warga, termasuk anak-anak usia sekolah, untuk tetap menggunakan jembatan darurat meski sadar akan risikonya. Titi gantung tersebut tidak hanya menjadi akses menuju sekolah, tetapi juga jalur utama untuk mencapai Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Gayo Lues.
Banjir bandang yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 26 November 2025 lalu meninggalkan luka mendalam bagi warga Desa Kendawi. Selain memutus jembatan utama, bencana hidrometeorologi tersebut juga merusak gedung SDN Kendawi dan SMPN satu atap Kendawi.
Hingga saat ini, belum ada perbaikan signifikan yang dilakukan pemerintah terhadap infrastruktur vital di desa tersebut. Warga pun mengambil inisiatif swadaya dengan membentangkan tali baja darurat agar aktivitas pendidikan dan ekonomi tidak lumpuh total.
Karmila, seorang warga Kendawi, menyampaikan harapan agar pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen. Ia menegaskan bahwa akses tersebut merupakan denyut nadi kehidupan masyarakat setempat.
"Kami berharap pembangunan jembatan ini dapat disegerakan oleh pemerintah, karena jembatan ini merupakan akses vital, selain ke sekolah jembatan ini akses menuju rumah sakit umum Gayo Lues," ujarnya, Senin (27/7/2026).
Warga berharap pemerintah kabupaten segera turun tangan sebelum terjadi korban jiwa. Setiap hari, puluhan anak-anak dan orang dewasa harus menyeberang di atas tali baja yang kondisinya kian rapuh termakan cuaca.
Meski terlihat rapuh dan berisiko tinggi, para pelajar tetap melintas karena tidak ada pilihan lain. Keterbatasan akses ini juga menghambat distribusi logistik dan menghambat warga yang membutuhkan pertolongan medis darurat.
Kondisi ini menjadi ironi panjang pascabencana yang belum terselesaikan. Warga berharap pemerintah tidak hanya berhenti pada janji, tetapi segera mewujudkan pembangunan jembatan permanen agar anak-anak tidak lagi mempertaruhkan nyawa hanya untuk sampai di ruang kelas.