BANDA ACEH — Sekolah menjadi benteng terdepan yang dinilai paling efektif untuk menekan potensi penularan HIV/AIDS di kalangan remaja. Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi Aswad, meminta jajaran Dinas Kesehatan dan seluruh Puskesmas untuk menjadikan program "Go to School" sebagai agenda rutin di setiap jenjang pendidikan.
Menurut Musriadi, masa remaja adalah fase pencarian jati diri yang rawan terpapar pengaruh lingkungan. Rasa ingin tahu yang tinggi tanpa dibekali informasi benar dapat menyeret pelajar pada perilaku berisiko, seperti penyalahgunaan narkoba hingga seks bebas.
"Pergaulan yang tidak terarah dapat menyeret remaja pada penyalahgunaan narkoba, seks bebas, maupun perilaku berisiko lainnya yang dapat meningkatkan potensi penularan HIV/AIDS. Karena itu, mereka harus dibekali dengan pengetahuan yang benar agar mampu melindungi diri," ujarnya, Sabtu (1/8/2026).
Musriadi menekankan bahwa penyuluhan tidak cukup hanya menyentuh aspek medis. Kolaborasi dengan lembaga keistimewaan Aceh diperlukan agar materi yang disampaikan selaras dengan nilai agama dan budaya lokal.
"Upaya pencegahan harus dimulai dari edukasi. Saya mendorong Dinas Kesehatan, seluruh Puskesmas, serta lembaga keistimewaan seperti MPU, MAA, dan Dinas Syariat Islam untuk bersinergi melaksanakan program Go to School secara berkelanjutan. Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan," kata politisi PAN itu.
Dalam pelaksanaannya, tenaga promosi kesehatan dan pemegang program HIV/AIDS di setiap Puskesmas akan turun langsung ke sekolah. Materi yang disampaikan mencakup pengertian HIV/AIDS, cara penularan, hingga langkah pencegahan yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal Aceh.
Musriadi juga mengusulkan keterlibatan tokoh agama, akademisi, dan konselor sebaya dalam program ini. Kehadiran konselor sebaya dinilai penting agar siswa lebih terbuka dalam berdiskusi mengenai kesehatan reproduksi.
"Kolaborasi ini penting agar siswa memperoleh pemahaman yang utuh. Mereka tidak hanya mengetahui aspek medis HIV/AIDS, tetapi juga memahami pentingnya menjaga moral, menjauhi narkoba, serta membangun karakter yang kuat sesuai syariat Islam," tambahnya.
Musriadi berharap Pemerintah Kota Banda Aceh menjadikan program ini sebagai gerakan lintas sektor yang masif. Edukasi berkelanjutan dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk melindungi generasi muda dari ancaman penyebaran HIV/AIDS.
"Melindungi generasi muda adalah investasi masa depan daerah. Edukasi yang masif, berkelanjutan, dan melibatkan semua pihak merupakan langkah strategis untuk menekan penyebaran HIV/AIDS sekaligus mewujudkan Banda Aceh sebagai kota yang sehat, religius, dan berkarakter," pungkasnya.