BLANGKEJEREN — Aksi pencurian yang menyasar fasilitas kebencanaan ini terungkap setelah tim teknis dikirim ke lapangan pada 3 Agustus 2026. Saat tiba di lokasi, petugas mendapati pintu shelter telah dirusak, gembok hilang, dan seluruh kabel instalasi di dalam bangunan dipotong paksa.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas II Aceh Selatan, Sugeng Prayitno, menyatakan gangguan ini bukan sekadar kerugian materiil. Lebih jauh, aksi tersebut memangkas kemampuan jaringan BMKG dalam menentukan parameter gempa secara cepat di wilayah yang berada di jalur aktif Sesar Sumatera Segmen Tripa.
“Dalam kondisi kerawanan yang tinggi seperti ini, keberadaan stasiun pemantau gempa sangat krusial. Lumpuhnya Site BGASI mengurangi kemampuan jaringan BMKG dalam menentukan parameter gempa secara cepat. Keterlambatan informasi tentu dapat membahayakan keselamatan masyarakat,” ujarnya, Sabtu (08/08/2026).
Sejumlah peralatan utama dilaporkan hilang dari shelter tersebut. Berdasarkan catatan BMKG, pelaku membawa satu unit digitizer Quanterra Q8, satu unit modem VSAT iDirect iQ Desktop+, dua baterai berkapasitas 9 Ah, serta satu set kabel panel surya.
Padahal, perangkat-perangkat tersebut merupakan jantung dari sistem pemantauan seismik di titik tersebut. Tanpa digitizer dan modem, data aktivitas gempa tidak dapat dikirimkan ke pusat data BMKG untuk dianalisis.
Hilangnya fungsi stasiun ini menjadi ironis mengingat Gayo Lues beberapa kali diguncang gempa merusak. Terakhir, gempa bermagnitudo 5,6 pada 22 Juli 2026 memaksa sejumlah fasilitas umum rusak, termasuk sebuah puskesmas di kabupaten tersebut.
Segmen Tripa dikenal sebagai salah satu patahan paling aktif di Pulau Sumatera. BMKG mencatat segmen ini memiliki potensi memicu gempa hingga magnitudo 7,4, yang tentunya akan berdampak signifikan bagi permukiman di dataran tinggi Gayo Lues.
Dengan lumpuhnya Site BGASI, celah pengawasan terhadap pergerakan sesar ini menjadi terbuka. Padahal, setiap detik data yang masuk sangat berarti untuk memberikan waktu evakuasi bagi warga sebelum guncangan besar tiba.
BMKG mengimbau masyarakat untuk turut menjaga fasilitas pemantauan bencana. Keberadaan alat tersebut merupakan bagian penting dari sistem informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami yang berperan dalam melindungi keselamatan masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian setempat belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penyelidikan kasus pencurian perangkat pemantau gempa tersebut.