Rektor UIN Ar-Raniry Sebut Warul Walidin Guru Bangsa, Pemikirannya Masih Dibutuhkan untuk Aceh

Penulis: Saiful  •  Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:08:01 WIB
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Mujiburrahman MAg, menyampaikan belasungkawa atas wafatnya mantan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Warul Walidin AK MA, di RSUDZA, Banda Aceh, Rabu (12/8/2026).

BANDA ACEH — Keluarga besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh berduka. Mantan Rektor UIN Ar-Raniry periode 2018-2022, Prof Dr Warul Walidin AK MA, berpulang di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) pada Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 08.30 WIB.

Kabar duka ini langsung mendapat respons dari Rektor UIN Ar-Raniry saat ini, Prof Dr Mujiburrahman MAg. Ia menegaskan bahwa Warul bukan sekadar mantan rektor biasa bagi kampus tersebut.

"Beliau guru bangsa, rektor senior. UIN sangat merasa kehilangan," kata Mujiburrahman.

Pemikiran yang Masih Dinantikan untuk Visi Besar 2026-2030

Mujiburrahman mengaku kehilangan itu terasa semakin dalam karena gagasan-gagasan Warul masih sangat dibutuhkan. Terlebih, UIN Ar-Raniry kini tengah memasuki periode kepemimpinan 2026-2030 dengan agenda pengembangan yang jauh lebih besar.

"Di periode kedua ini kita masih membutuhkan ide dan gagasan besar beliau untuk UIN Ar-Raniry untuk visi besar UIN Ar-Raniry periode 2026-2030," ujarnya.

Menurut Mujiburrahman, kebutuhan akan pemikiran almarhum tidak hanya terbatas di lingkungan kampus. Masyarakat Aceh secara luas dinilai masih memerlukan kontribusi intelektual dari sosok yang dikenal menempatkan pendidikan sebagai fondasi pembangunan masyarakat itu.

"Pemikiran beliau masih sangat kita butuhkan. Bukan hanya untuk UIN Ar-Raniry, tetapi juga untuk Aceh," ujar Mujiburrahman.

Jejak Pengabdian Lebih dari Empat Dekade di UIN Ar-Raniry

Warul memiliki ikatan sejarah yang panjang dengan kampus yang kini bernama UIN Ar-Raniry. Pengabdiannya sebagai akademisi dimulai pada 1983, ketika ia pertama kali mengajar sebagai dosen di Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry.

Kariernya kemudian berlanjut di Fakultas Tarbiyah, tempat ia dipercaya memimpin sebagai Ketua Jurusan Kependidikan Islam pada periode 1997-2000. Setelah menyelesaikan pendidikan doktornya pada 1997, ia juga aktif mengajar di Program Pascasarjana.

Puncak karier akademiknya di bidang pengelolaan perguruan tinggi diraih ketika ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah pada 2000-2001. Pengalaman panjang inilah yang kemudian mengantarkannya ke kursi rektor.

Dilantik Menteri Agama pada 2018

Pada 2 Juli 2018, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin resmi melantik Warul sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ia menggantikan Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA dan memimpin kampus tersebut hingga 2022.

Sebagai guru besar, kiprah Warul tidak berhenti di lingkungan kampus. Ia juga aktif dalam berbagai ruang pengabdian publik di Aceh, termasuk keterlibatannya di Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.

Peran di dua lembaga tersebut menunjukkan posisinya sebagai intelektual yang memberi perhatian serius pada persoalan pendidikan, keislaman, dan kehidupan sosial masyarakat Aceh. Pengalamannya kerap berada di persimpangan antara dunia kampus, pendidikan Islam, dan dinamika sosial di tanah rencong.

Meski masa jabatannya sebagai rektor telah usai pada 2022, nama Warul tetap lekat dalam ingatan akademik UIN Ar-Raniry. Gagasan dan pengalamannya masih menjadi bahan percakapan mengenai arah dan masa depan kampus.

Kini, jejak panjang pengabdian itulah yang tersisa. Bagi Mujiburrahman, kehilangan ini bukan sekadar kehilangan seorang mantan rektor, melainkan kehilangan seorang senior akademisi yang pemikirannya masih diperlukan. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Reporter: Saiful
Sumber: dialeksis.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top